Feed on
Posts
comments

bertaruh

kemarin, 1 April 2008

aku bertaruh dengan tiara, au’ saksinya bahwasanya aku membuat kesepakatan;

"seusai aku mengambil data (which means akhir bulan ini) maka aku dan tiara akan makan bareng di sebuah tempat istimewa sekali"

aku bertaruh dengan upik;

"tanggal 3o April 2008 barang siapa belum menyelesaikan pengambilan datanya maka harus mentraktir pihak yang lain di omah dhuwur"

hidup, skripsi, dan matiku sekarang bergantung pada peratruhan ini…

hu hu hu hu

Seperti bangun dari mimpi. Maka bagaimana mimpi bisa lagi diutarakan. Bisa saja tapi banyak yang lupa. Mimpi yang bagus. Mimpi yang terlalu bagus. Terlalu bagus. Awalnya niat ingin menulis paling tidak sekali setiap minggunya, akhirnya itu tidak kesampaian juga. Sibuk? Bukan. Males. Lagian orang tidur kok disuruh menulis. Mungkin saya memang belum dewasa penuh, belum dewasa penuh untuk menaklukkan halangan dan rintangan yang bernama kemalasan, lebih khususnya lagi kemalasan berpikir. Otak saya jumud, mati, beku. Dan saya semakin bertambah bodoh. Seumur hidup saya ada 2 orang yang bilang saya bodoh. Dan saya yakin mereka berdua jelas lebih pintar dari saya dan mungkin observer yang cukup handal. Ya, saya memang agak sedikit bodoh dan mungkin kian bertambah bodoh. Kekasih saya bilang saya pintar dengan latar belakang mantan sekolah yang sekarang jadi sekolah berstandar internasional (yang makin mahal) dan notabene kelas percepatan yang saya khatamkan dalam waktu 2 tahun itu. Ya, mungkin dulunya saya pernah pintar.

Huh, lihat! Saya padahal tidak ingin bicara soal kepintaran. Saya ingin bicara tentang mimpi saya kemarin. Yang 2 bulan itu.

Bangun-bangun dari mimpi, teman-teman sudah pada lulus, ya, belasan sudah lulus kemarin februari, puluhan mungkin akan lulus mei ini, termasuk juga si abang neolib yang sekarang jadi sales bergaji banyak berbini cantik… hue’e’e’e, yah, selamat saja. Sementara diriku ini? Mengejar agustus… kata pak bagus… janganlah mengejar takkanlah kedapatan. Mending dikejar-kejar agustus. Heheh…. aku males ngomongin skripsi, biarlah itu jadi proyek rahasia aja lah ya. "skripsimu sampai mana?", "kapan lulus?", itu menjadi FAQ buatku sekarang. Heheh. Sialan… gua belum tua-tua amat, belum 21, weeeks! Ya, dan emang aku pingin lulus sebelum 21. halah, dangkal! ini bukan permasalahan umur sebenarnya. Ini permasalahan yang lebih dangkal daripada umur. Ini permasalahan ambisi dan obsesi demi prestise, pemenuhan harga diri, pembuktian bahwa gua hebat gitu loh.

Ternyata aku dangkal banget. Shallow se shallow shallow nya,

Bodoh dan dangkal… perpaduan yang sempurna.

Citra diri negatif. Ada apa sih dengan saya?

Lihat, aku bahkan bukan ingin ngomongin soal kedangkalan. Saya ingin ngomongin tentang mimpi bagus yang Cuma 2 bulan itu.

mimpi bagus yang ingin saya lupakan karena terlalu bagus. Heheh. untungnya saya pelupa jadi saya nggak salah dong kalau saya jadi nggak bisa cerita apa-apa. Kaya Dessy Ratnasari aja bilang; "no Comment".

Andai aku bisa bilang kaya gitu waktu ditanyain kawan-kawan, yang begitu melihatku pulang langsung acung tangan menagih buah tangan dan cerita petualangan.

Pingin rasanya bilang; "aduh maaf, aku lupa…"

SAJAK SEONGGOK JAGUNG

Karya W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kue jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
" Di sini aku merasa asing dan sepi !"

Diambil dari

http://www.geocities.com/merahdanhitam/artikel3.htm

–saya takut, bila saya ternyata saya menjadi golongan pemuda kedua—

apa guna punya ilmu tinggi
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu


di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah kongkalikong
dengan kaum cukong . . .

. . . sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

—saya takut bila ternyata saya tak bisa buat apa-apa—

-wiji thukul-

nglakoni

Dalam salah satu turunan dalam skripsi saya —tsaaaaaaah— ada temuan yang dalam beberapa referensi disebut, nglakoni alias banting raga, definisi sederhananya adalah melakukan sesuatu –dalam hal ini menahan nafsu atau membatasi pemenuhan akan nafsu tersebut- untuk mencapai tujuan tersebut.

Saya jugak kepingin ah, nglakoni begitu, nggak, bukan tapa kungkum, malu saya, habis punggung saya berjerawat, heheh. Sesuatu yang lain, mirip sebuah konsep yang satu ini;

"brata untuk amati gni dalam arti seluas-luasnya, yakni sebagai gerakan antikonsumerisme, antikekerasan dan antieksploitasi" –nyepiologi

AAGN Ari Dwipayana-

Saya jadi ingat setahun yang lalu ada yang ngeSMS selamat nyepi (remember when…we never needed each other.. we understand we never be alone… those days are gone… now, I want you so much!). Aneh betul, sudah tahu saya bukan Hindu. Tapi, kalau dipikir lagi apa salahnya memaknai yang baik, mengambil ruhnya, atau kata Dream Theater; SPIRITnya. Natal, Nyepi, Paskah, Maulud Nabi, Idul Fitri, Idul Qurban harusnya berakhir lebih dari sekedar perayaan tapi pembaharuan batin bagi yang merayakan. Walah, kakehan ndobos… mbok dikurangi, fa, kata-kata "seharusnya". Intinya, saya pikir ini bagus sekali, ketimbang berpikir untuk mengubah dunia tapi ga tau gimana caranya, pusing sampai pada pemikiran tok…..lha iyalah pan saya bukan nabi, mending mengubah diri sendiri. Kalo kata pepatah Celestial Tea (yang ada di bungkus Celestial Tea); kalo kamu ga bisa ngubah nasibmu, ubah dirimu sendiri.

Ato kata De Mello; "Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorangpun berpikir bagaimana mengubah dirinya"

Tinus juga dulu begitu, dia nglakoni, puasa gitu demi Psikomedia -camkan itu wahai para penerus Psikomedia, kalau kalian merasa beruntung sekarang maka itu adalah efek dari puasa Tinus- dan juga demi uripnya sekaligus Yogya. Weleh kok saya jadi promosi gini. Hei Tinus bayar biaya promisi nih. Ya pokoknya, ya memang kita harus melakukan sesuatu.

Itu saja sebagai reminder bagi diri sendiri…

PS; "mas, semoga tetep setia jadi reminderku yak, muah…"

TKI pulang kampung

Pulang ke negara tercinta disuguhi realita yang bikin influenza selama 3 minggu pertama di bumi Yogayakarta.
Pulang ke negara tercinta, pingin kabur, balik lagi ke amerika , bobok siang, mimpi indah di sana banyak tertawa sambil minum pepsi cola dan makan pizza
Pulang ke negara tercinta, udara panas, asap kendaran bermotor, bikin jerawat nongol, muka jadi kotor dan kulit hitam berjelaga
Pulang ke negara tercinta, harus beli pembersih muka yang terus merangkak naik harganya, begitu juga dengan harga-harga yang lain
Pulang ke negeri tercinta, kawan-kawan seru meneriakkan wacana, mendiskusikan fenomena-fenomena dengan analisis tokoh-tokoh ternama, ambil data, turun lapangan, dan segera bekerja bersama
Pulang ke negara tercinta kawan-kawan banyak yang sudah diwisuda, menunggu diwisuda dan akan segera diwisuda
Pulang ke negara tercinta berjumpa keluarga yang dirindukan, kekasih yang diharapkan menghidupi kebersamaan sampai sama-sama renta
Pulang ke negara tercinta ada kawan yang akhirnya melegalkan cinta di depan departemen agama setelah berjuang menanti berharap gagal bangkit lagi dalam jutaan tahun cahaya
Pulang ke negara tercinta dunia terasa semakin berbeda
Aku makin jatuh cinta!
Jatuh cinta adalah menyadari realita, tidak (lagi) berusaha lari daripadanya, meski terasa menyesakkan rongga dada, meski realita yang lain jauh lebih indah namun kamu tetap setia, bukan karena tidak ada lagi pilihan tapi tidak ada alasan untuk kecewa dan tidak lagi mencintai bangsa
Aku bukan nasionalis bisa jadi aku opurtunis, kapitalis atau antek neolib sekalian,
tapi, menjual bangsa? Ini negeri bukan saya yang ounya, bukan juga kamu, tapi kita, termasuk orang-orang yang pada membusuk di kuburan-kuburan –resmi tak resmi- di seluruh pelosok negeri
mbok ya mikir-mikir dulu kalau mau menjual bangsa, kalau hasilmya terlalu kecil buat dibagi-bagi ke 250 juta jiwa ya jangan dijual!
kudekap erat kau Indonesia raya, biar (nanti) jaya

part I

Chapter I

Ok, what should I start with?

This is a story. Karena hidup adalah cerita. Cerita tentang
perjalanan yang entah akan berakhir kapan.

Semuanya berawal dari dering telepon. Dering telepon yang
mengabarkan bahwa tuhan mengirimkan sebuah tiket perjalanan. Another shuttle
bus. Perhentian yang lain.

“Ini dari IIEF, noor alifa kan?”

Dan perbincangan selanjutnya adalah pemberitaan persiapan
paspor. Minggu-minggu, hari-hari, jam-jam, menit-menit, detik-detik selanjutnya
adalah soal penantian. Menanti. Menunggu. Menyiapkan diri.  Memantapkan pilihan, karena sepertinya tak
ada pilihan lain. Mahasiswa tingkat akhir yang nyaris cum laude, mendapat beasiswa
untuk tunjangan hidup dan biaya kuliahnya, ada banyak cinta dalam dunia
mungilnya, ada banyak kawan yang menopang, keluarga yang mendukung, aktivitas
yang menumpuk, dan dunia terlihat begitu sempurna. Tidakkah demikian?

Saya tidak bermaksud membawa Anda dalam drama tragedi hidup
pribadi saya, setiap orang punya “medan perang”nya sendiri-sendiri saya percaya
itu. Medan perang saya hampir tak terlihat, atau mungkin saja sangat kasat
mata. Mungkin tak semua orang tahu. Atau mungkin saja semua orang tahu.

Ya, saya butuh tiket liburan. Jengah dan setengah muak
melihat orang-orang berlari bak kuda pacuan. Jengah melihat kian hari dunia
kian tak baik saja. Jengah melihat sistem. Jengah dengan ketidak pastian.
Jengah dengan definisi “sukses”. Jengah dengan aturan-aturan. Jengah dengan
ikatan. Jengah dengan stereotype. Jengah dengan angan-angan. Jengah dengan
harapan. Jengah dengan kompetisi. Jengah dengan kehidupan. Jengah dengan
kehampaan. Jengah dengan berbagai pertanyaan.

Ya, mungkin saya butuh Jeda sejenak.

“Bukankah hidup ada
penghentian
Tak harus kencang terus berlari
Ku helakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…
Berlari kembali..
Melangkahkan kaki menuju cahaya”
–padi, sang penghibur-

Cahaya. Dimana cahaya itu?

Lets find it Out ! Tiket perjalanan sudah di tangan—

 

 

 

Chapter II

Saya tidak lagi terlalu excited. Mungkin menjadi terlalu
terbiasa dengan kejutan. Ya, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukan Cuma
kebetulan semata pasti ada “makna” dibalik setiap pertanda. Dan mencari makna
adalah hal yang menyenangkan. Seperti melakukan semacam investigasi. Mungkin
kamu bisa menemukan “pembunuhnya” atau kamu yang “mati terbunuh” – menjadi
korban dari pikiranmu sendiri- that is your choices, dude.

“Keberuntungan”.

Demikian mereka bilang pada kami saat itu.

“Kesempatan emas”.

Bagiku, ini semua lebih mirip pembuktian dan proses
pembuatan laporan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban atas “keberuntungan
dan kesempatan emas” itu. Tidak ada sesuatu yang datang dengan sia-sia. Tidak
ada sesuatu yang datang juga dengan Cuma-Cuma.

Aku sudah berjuang sejauh ini, melawan diriku sendiri,
melawan perasaan ketidakmampuan dan ketidakmungkinan. Dan di depan gerbang
segala kemungkinan, kamu mau menyerah?

Aku punya alasan.

Mintaku tiba2 lenyap saat urus visa di US Embassy. Huff,
liat televisinya. Awalnya, mereka siarkan berita Metro TV tentang konferensi di
Bali yang tidak disepakati Amerika. Tiba-tba TV itu mati dan berganti tampilan.
Kali ini menyajikan wajah ramah orang America yang tak henti bilang ; WELCOME
WELCOME kaya jualan keset aja.

US Deartment of State.

Pendonor utama tiket liburan ini. Pikirkan, apa yang mereka
inginkan sebenarnya? Berbuat baik kepada Negara berkembang dengan memberi uang
dan merancang perjalanan kami menuju USA ? untuk apa? mengubah citra? Menjadi
agen dan kepanjangan tangan mereka? Wow, such anice country… gue suka kejijaian dan kemunafikannya. Playing dirty?
Kita lihat siapa yang lebih dirty. Such a mess, aku ga tau apa motivasi dari
ini semua. Sebuah ketidakjelasan.

“Haruskah saya terima tawaranmu, Han?”

Lalu, saya seperti mendapat jawaban dari sebuah pertemuan.
Idealism yang bangkit lagi. Menyala. Dengan pembalikan statement. “kenapa tidak
kita manfaatkan untuk kepentingan”kita”?” such a mess, kepentingan kita! Dunia
ini jorok, mau tahu soal altruism? Ketulusan? Well, guys, that was a folklore!
Just a stories long time a go. A very long time ago.

Lalu, kata seorang kawan, Amerika Negara kaya, saking
kayanya mereka harus membuang kelebihan uangnya untuk kepntingan yang lain
supaya neraca perdearan uang tetap seimbang. Such a mess lagi. Ternyata ini
taktik. Yang paling gua takutkan adalah siapa yang akan membayar untuk segala macam “fasilitas” dan kesempatan
ini. Apakah another kesepakatan lagi di pucuk Jayawijaya? Berapa ton emas lagi
yang bakal dikeruk? Berapa barrel minyak yang disedot?

Dunia yang tidak aman.

Maaf, pembaca, membawa Anda dalam sebuah pemikiran yang
mungkin sama sekali tidak berdasar. Suudzon. Prejudice. Judge by such shallow
facts.

The truth will revealed. Just wait and see.

 

Chapter III

Hari keberangkatan. Seharusnya penuh haru. Keluarga, teman,
pacar. Perfect! Dan kita akan bertemu 2 bulan lagi. Waktu yang tak lama kan?

Orang tua. meminta prioritas. Perempuan canggung yang belum
pandai menata hati. Tak siap atas judgement dan harapan-harapan yang tak mampu
ia penuhi. Ia tak mau memilih. Ia ingin sebuah kehidupan dimana hanya dirinya
yang bertanggung jawab atas itu. Ia merasa tidak diperlakukan sesuai umurnya.
Dan akhirnya ia berlaku juga tidak sesuai umurnya. Such another mess.hari
keberangkatan yang bukannya penuh haru, keacanggungan disana-sini. Kemarahan.
Dan lagi-lagi persoalan. Such a piece of hell. Pertengkaran. Stubborn. Pesawat
yang delay. Tangisan kemarahan dan bukan haru. Harga yang harus dibayar dari
sebuah keputusan. Final? Ya. Final. Till the end do us part. Keras kepala.
Hanya itu satu-satunya yang aku percaya selain Tuhan sekarang.

Sayang? Ya, tentu saja saya menyayangi keluaraga saya.
sangat. Dan jangan paksa saya memilih. Belum saatnya.

Terbang dengan perasaan hampa. Tujuan Jakarta. 14.32 waktu
Indonesia. Kekasih mengantar hingga saat terakhir. Sebuah buku di tangan,
hadiah kawan; “seruan Azan dari puing WTC”. Adakah azan, -nanti di Corvallis
sana?-

Chapter IV

Jakarta, terminal I. besok malam di terminal II tinggalkan
Indonesia naik Garuda Indonesia. Tujuan; Peking? Beijing? sama saja lah. Tidur
di Hotel transit? Bintang 4 setengah yang semalamnya habiskan 750 ribu. Jumlah
yang sangat banyak. Lagi-lagi, uang, uang dan uang. Apa yang akan kami bayarkan
sebagai pengganti dai semua ini?

Ah, fa, stop THINKING, Just do your best…

Kekasih yang baik adalah ia yang menerima dan mengingatkan.
Ya, dia kekasih terbaik. Keluarga yang baik adalah mereka yang selalu ada. Ya,
mereka adalah keluarga terbaik yang pernah saya punya. Teman yang baik adalah
mereka yang selalu mendoakan. Ya, mereka adalah teman terbaik yang pernah saya
punya.

-Saya mulai merindukan kalian semua-

Dan kehidupan ini? Kehidupan ini juga adalah yang terbaik,
bagi saya. episode ini, yang mungkin saja akan jadi milestones dalam sepanjang
sejarah hidup saya.

Chapter V

Seratus dollar itu dibagikan. Bersamaan dengan 125 ribu
untuk makan. Malam itu bertemu chaperone di terminal II. Siap berangkat. Nope.
Tanpa nervous tentu saja. Hambar.

Fiscal. Ticket. Garuda Indonesia. United Airlines. Economy
Class. Ada artis disana; Executive Class; Ari Sihasale dan istrinya, siapa
namanya? Nia Zulkarnaen. Gosh. Such a perfect couples. And suddenly my perfect
couples call. That was so nice. Berangkat. Telepon dimatikan. Sekali lagi.
Keberuntungan, window untuk setiap penerbangan.

“Lucky ME!”

Yeah, lucky. Just LUCKY

 

Chapter VI

Changi International Airport. Just sch as dreamy
international. Sangat nyaman. Free internet access. Bersih. Mewah. Elegan.
Singapura. Macan asia. Kita mesti bertanya, bagaimana bisa? Negara sekecil itu,
ada apa dengan Indonesia? Retorical questions, jangan jawab dengan permasalahan
budaya dan kedisiplinan apalagi kebodohan. Basi!

Delay, lama sekali, hanya untuk menunggu satu orang yang terpikat buat belanja di Singapore. Semua orang marah.
Kata gue sih, mungkin aja tu ibu tadi kesasar. Kenapa sih, Cuma telat 30
menitan aja kok. Apa yang dikejar2 c? waktu? Ga bakalan kekejar deh kalo
ngejar-ngejar waktu.

Lepas landas. Gue selalu suka lihat yang gemerlapan di bawah
sana. Dan yah, I get what I want. Bumi yang gemerlapan kala malam. Cantiknya.

Tiba-tiba sudah pagi. Beijing. Peking. Bandara mengerikan.
Ga juga c sebenarnya. Bersih. Gua ga sepakat dengan temen-temen yang bilang
Beijing jorok. That’s fine kok. Inspeksi yang ebih ketat di China, lbih ketat
daripada di Indonesia. Petugasnya lebh banyak. Sangat banyak dan kita bisa
ngevote pelayanan mereka. That’s cute. Sebagian ada yang sangat ramah. Sebagian
senyum massal ala kadarnya dan sebagian lagi ngggak sama sekali. Yang paling
parah adalah sebagain dari mereka ga bisa bahasa inggeris. Bener2 deh. Ga ada
hal yang menarik terjadi selain pesawat kami delay dan kami harus ngegembel
lagi di bandara peking itu, sekitar 4 jam. Kami semua dapat makan siang gratis
di airportnya. Anak2pada beli souvenir. Heran. Padahal segala sesuatu belum
pasti di amrik sana, dan mereka beli souvenir? Aah, sudahlah, itu uang mereka
juga, ngapain aku ikut campur?

Menuju Amerika (SF) naik pesawat yang namanya United Airlines.
Ternyta kaya gini pesawat amerik. Ga begitu bagus, ga bisa dibiilag baru juga.
Boeing, gede buangetz, tempat duduknya sampe M (di Indon Cuma sampe F) tapi dia
punya channel yang bisa kamu dengerin kaya denger mp3, denger radio lebih
tepatnya. Dan kamu bisa nonton tipi juga. Asik kan? Mana makanannya banyak
banget lagi. Dikit2makan. Sama kaya garuda, prmugara dan pramugarinya udah
sepuh-sepuh, ga ada yang genit2, semok2 kaya pramugari maskapai ecek2 Indon.
Agak aneh juga. Kan konsepsi pramugari ideal itu yang bodinya bohai gitu yak.
Nah, ini mah kagak. Mereka just looks like orang ebanyakan. Cukup ramah, tapi
seperti pramugara dan pramugari pada umumnya, maksudku,. Mereka-merka yang
mengerjakan pekerjaan yang sama setiap harinya, ya, anda bisa merasakan senyum
dan ucapan terima kasih dari mereka, rasanya hambar en garing banget. UA better c, dalam artian ada
juga yang sangat taking care sama enumpangnya. Setidkanya mereka menyelamtkan
beberapa dari kami dari makan pork. Sayangnya (untungnya) gua ga termasuk.

Again. I get window. Penerbangannya so far so ggod. Landing
dan take offnya mulus ga gedebag gedebug kaya sebagian pesawat Indonesia,
spesifiknya LA, meskipun untuk telatannya, ya sama aja gitu.

SAN FRANSISCO. 8 jam perjalanan dari Peking, kita nyampe SF.
Pagi hari. Proses imigrasinya, ternyata Cuma gitu aja. Biasa aja. SF juga biasa
aja nothing so much to scare or to worrying about. Ga kaya yang di PDO-kan. Ga
setegang tu. Ya, dan kita musti belajar antri… =) di belakang garis kuning, dan
antri di batas line ijo cos line merah itu buat citizen. Nama pemeriksa gue
PapaGeorge. Dia tahu banyak soal Indonesia, dia tahu Aceh, seenggaknya, papa
George mau ke Indonesia suatu hari nanti. Mungkin bosen sama kerjaannya. You
know, mekanikal banget, ngecap, entry, you go there, Next, ngecap, entry, you
go there, next, gitu doang tiap hari.

Beberapa dari kami yang cowok kena secondary inspection tapi
mereka ga kenapanapa semua, malah pengalaman yang lucu kata mereka. Kami
dijemput sama orang2 dari IIE sponsor manajemen beasiwa ini. New Yorker yang
ramah. Tapi yang gua pelajari sekarang adalah some of American people just
doing best for her work so they can get their money for it. Mereka ramah, tapi
seprttinya agak dibuat-buat. Another prejudice. Pesawat kita lagi- lagi delay.
BUt thanks atas delaynya, kami jadi bisa lihat night scenery west coastnya
amerika. Dan lagi-lagi me in the WINDOW!!!!

Menyenangkan. Puji tuhan. Subhanallah, indah banget banget
banget. Kami tiba di Bandara Portland. Dan masih ga percaya kalo kita dah di
amerika. Di Portland kita dijemput Melinda Sayavedra our ELI advisor. Perjalanan
2 jam. Nyampe dorm jam 10 malam dan disambbut salju rintik-rintik.

Snow. Just like streofoam pouring. Tapi tetep aja indah .
banget.

Kami akan tinggal di Cauthorn Halll, semacam dormitory
dengan fasilitas cukup lengkap. Meal card 825 dollar (bisa diuangkan ga ya kalo
sisa?)

Such a nice place. And such a nice trip that we gonna had.

 

wait tomorrow

ust a beginning of the story, will be launched tomorrow, te story of a whole week about our journey to the blessed corvallis

riuh rendah yang berbeda, kami bicara dengan gesture dan mungkin kultur yang berbeda
tidak bisakah kita melepaskan sejenak pemikiran, dugaan, terkaan, in order to make a peace
peace start from comprehension…
in the name of God, we speak the same words, actually
   
Courthouse_by_oceanxbliss

this is the picture of a courthose downtown corvallis (taken from deviantart)
see you tomorrow………….

my life goes on

so let kinda be my life goes
i have to go to Oregon, Corvallis, Oregon state university
another kind of adventure that might be i loved
thanks to Allah for this kind oppurtunity

that was my fully surprised life!

just for two months
that might be change my life foreva!
so, tell me, who’s the one that trapt in da past life?
god, damned!
i love you, sist…
so love him better…
becos i have already love mine!

thank you for pity-ing me
ha ha ha ha

Free Image Hosting at ImageShack.us

choices

“Ketika kita sudah dapat berkomunikasi atau bercengkerama mesra dengan Tuhan, masihkah agama — yang cenderung sangat egois — diperlukan? Bukankah ibadah kita merupakan implementasi dari rasa kecintaan kita pada Sang Kekasih? Tidakkah kita disebut berselingkuh jika setelah ibadah yang selalu kita lakukan dengan khusyu’ dan rutin, namun kita masih sering membenci sesama, berprasangka buruk, iri hati, dll?” -menjumpai pernyataan ini pada sebuah blog…

hidup terus berjalan dan menawarkan beragam pilihan, seperti juga kelulusan, dan jobfair yang marak, hendak kemana para lulusan setelah pesta toga? mereka menjual diri menyambangi jobfair2, menjadi bagian dari antrian panjang para fresh gradute… ada juga mahasiswa tingkat akhir sepertiku… sibuk menjajal akan kemana setelah formalitas ini usai dijalani… ada yang sudah dapat kepastian ada yang tengah di ambang ragu…
yah, dalam perhelatan akbar para mahasiswa yang mengakkhiri status mahasiswanya itu, banyak nilai ditebar, ukuranm kesuksesan lantas ditimpakan pada berapa cepat kamu selesaikan studi, berapa nilai yang kamu peroleh, dan segala macam embel2 lain…
duniaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….. ah!

« Newer Posts - Older Posts »