Chapter I
Ok, what should I start with?
This is a story. Karena hidup adalah cerita. Cerita tentang
perjalanan yang entah akan berakhir kapan.
Semuanya berawal dari dering telepon. Dering telepon yang
mengabarkan bahwa tuhan mengirimkan sebuah tiket perjalanan. Another shuttle
bus. Perhentian yang lain.
“Ini dari IIEF, noor alifa kan?”
Dan perbincangan selanjutnya adalah pemberitaan persiapan
paspor. Minggu-minggu, hari-hari, jam-jam, menit-menit, detik-detik selanjutnya
adalah soal penantian. Menanti. Menunggu. Menyiapkan diri. Memantapkan pilihan, karena sepertinya tak
ada pilihan lain. Mahasiswa tingkat akhir yang nyaris cum laude, mendapat beasiswa
untuk tunjangan hidup dan biaya kuliahnya, ada banyak cinta dalam dunia
mungilnya, ada banyak kawan yang menopang, keluarga yang mendukung, aktivitas
yang menumpuk, dan dunia terlihat begitu sempurna. Tidakkah demikian?
Saya tidak bermaksud membawa Anda dalam drama tragedi hidup
pribadi saya, setiap orang punya “medan perang”nya sendiri-sendiri saya percaya
itu. Medan perang saya hampir tak terlihat, atau mungkin saja sangat kasat
mata. Mungkin tak semua orang tahu. Atau mungkin saja semua orang tahu.
Ya, saya butuh tiket liburan. Jengah dan setengah muak
melihat orang-orang berlari bak kuda pacuan. Jengah melihat kian hari dunia
kian tak baik saja. Jengah melihat sistem. Jengah dengan ketidak pastian.
Jengah dengan definisi “sukses”. Jengah dengan aturan-aturan. Jengah dengan
ikatan. Jengah dengan stereotype. Jengah dengan angan-angan. Jengah dengan
harapan. Jengah dengan kompetisi. Jengah dengan kehidupan. Jengah dengan
kehampaan. Jengah dengan berbagai pertanyaan.
Ya, mungkin saya butuh Jeda sejenak.
“Bukankah hidup ada
penghentian
Tak harus kencang terus berlari
Ku helakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…
Berlari kembali..
Melangkahkan kaki menuju cahaya” –padi, sang penghibur-
Cahaya. Dimana cahaya itu?
Lets find it Out ! Tiket perjalanan sudah di tangan—
Chapter II
Saya tidak lagi terlalu excited. Mungkin menjadi terlalu
terbiasa dengan kejutan. Ya, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukan Cuma
kebetulan semata pasti ada “makna” dibalik setiap pertanda. Dan mencari makna
adalah hal yang menyenangkan. Seperti melakukan semacam investigasi. Mungkin
kamu bisa menemukan “pembunuhnya” atau kamu yang “mati terbunuh” – menjadi
korban dari pikiranmu sendiri- that is your choices, dude.
“Keberuntungan”.
Demikian mereka bilang pada kami saat itu.
“Kesempatan emas”.
Bagiku, ini semua lebih mirip pembuktian dan proses
pembuatan laporan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban atas “keberuntungan
dan kesempatan emas” itu. Tidak ada sesuatu yang datang dengan sia-sia. Tidak
ada sesuatu yang datang juga dengan Cuma-Cuma.
Aku sudah berjuang sejauh ini, melawan diriku sendiri,
melawan perasaan ketidakmampuan dan ketidakmungkinan. Dan di depan gerbang
segala kemungkinan, kamu mau menyerah?
Aku punya alasan.
Mintaku tiba2 lenyap saat urus visa di US Embassy. Huff,
liat televisinya. Awalnya, mereka siarkan berita Metro TV tentang konferensi di
Bali yang tidak disepakati Amerika. Tiba-tba TV itu mati dan berganti tampilan.
Kali ini menyajikan wajah ramah orang America yang tak henti bilang ; WELCOME
WELCOME kaya jualan keset aja.
US Deartment of State.
Pendonor utama tiket liburan ini. Pikirkan, apa yang mereka
inginkan sebenarnya? Berbuat baik kepada Negara berkembang dengan memberi uang
dan merancang perjalanan kami menuju USA ? untuk apa? mengubah citra? Menjadi
agen dan kepanjangan tangan mereka? Wow, such anice country… gue suka kejijaian dan kemunafikannya. Playing dirty?
Kita lihat siapa yang lebih dirty. Such a mess, aku ga tau apa motivasi dari
ini semua. Sebuah ketidakjelasan.
“Haruskah saya terima tawaranmu, Han?”
Lalu, saya seperti mendapat jawaban dari sebuah pertemuan.
Idealism yang bangkit lagi. Menyala. Dengan pembalikan statement. “kenapa tidak
kita manfaatkan untuk kepentingan”kita”?” such a mess, kepentingan kita! Dunia
ini jorok, mau tahu soal altruism? Ketulusan? Well, guys, that was a folklore!
Just a stories long time a go. A very long time ago.
Lalu, kata seorang kawan, Amerika Negara kaya, saking
kayanya mereka harus membuang kelebihan uangnya untuk kepntingan yang lain
supaya neraca perdearan uang tetap seimbang. Such a mess lagi. Ternyata ini
taktik. Yang paling gua takutkan adalah siapa yang akan membayar untuk segala macam “fasilitas” dan kesempatan
ini. Apakah another kesepakatan lagi di pucuk Jayawijaya? Berapa ton emas lagi
yang bakal dikeruk? Berapa barrel minyak yang disedot?
Dunia yang tidak aman.
Maaf, pembaca, membawa Anda dalam sebuah pemikiran yang
mungkin sama sekali tidak berdasar. Suudzon. Prejudice. Judge by such shallow
facts.
The truth will revealed. Just wait and see.
Chapter III
Hari keberangkatan. Seharusnya penuh haru. Keluarga, teman,
pacar. Perfect! Dan kita akan bertemu 2 bulan lagi. Waktu yang tak lama kan?
Orang tua. meminta prioritas. Perempuan canggung yang belum
pandai menata hati. Tak siap atas judgement dan harapan-harapan yang tak mampu
ia penuhi. Ia tak mau memilih. Ia ingin sebuah kehidupan dimana hanya dirinya
yang bertanggung jawab atas itu. Ia merasa tidak diperlakukan sesuai umurnya.
Dan akhirnya ia berlaku juga tidak sesuai umurnya. Such another mess.hari
keberangkatan yang bukannya penuh haru, keacanggungan disana-sini. Kemarahan.
Dan lagi-lagi persoalan. Such a piece of hell. Pertengkaran. Stubborn. Pesawat
yang delay. Tangisan kemarahan dan bukan haru. Harga yang harus dibayar dari
sebuah keputusan. Final? Ya. Final. Till the end do us part. Keras kepala.
Hanya itu satu-satunya yang aku percaya selain Tuhan sekarang.
Sayang? Ya, tentu saja saya menyayangi keluaraga saya.
sangat. Dan jangan paksa saya memilih. Belum saatnya.
Terbang dengan perasaan hampa. Tujuan Jakarta. 14.32 waktu
Indonesia. Kekasih mengantar hingga saat terakhir. Sebuah buku di tangan,
hadiah kawan; “seruan Azan dari puing WTC”. Adakah azan, -nanti di Corvallis
sana?-
Chapter IV
Jakarta, terminal I. besok malam di terminal II tinggalkan
Indonesia naik Garuda Indonesia. Tujuan; Peking? Beijing? sama saja lah. Tidur
di Hotel transit? Bintang 4 setengah yang semalamnya habiskan 750 ribu. Jumlah
yang sangat banyak. Lagi-lagi, uang, uang dan uang. Apa yang akan kami bayarkan
sebagai pengganti dai semua ini?
Ah, fa, stop THINKING, Just do your best…
Kekasih yang baik adalah ia yang menerima dan mengingatkan.
Ya, dia kekasih terbaik. Keluarga yang baik adalah mereka yang selalu ada. Ya,
mereka adalah keluarga terbaik yang pernah saya punya. Teman yang baik adalah
mereka yang selalu mendoakan. Ya, mereka adalah teman terbaik yang pernah saya
punya.
-Saya mulai merindukan kalian semua-
Dan kehidupan ini? Kehidupan ini juga adalah yang terbaik,
bagi saya. episode ini, yang mungkin saja akan jadi milestones dalam sepanjang
sejarah hidup saya.
Chapter V
Seratus dollar itu dibagikan. Bersamaan dengan 125 ribu
untuk makan. Malam itu bertemu chaperone di terminal II. Siap berangkat. Nope.
Tanpa nervous tentu saja. Hambar.
Fiscal. Ticket. Garuda Indonesia. United Airlines. Economy
Class. Ada artis disana; Executive Class; Ari Sihasale dan istrinya, siapa
namanya? Nia Zulkarnaen. Gosh. Such a perfect couples. And suddenly my perfect
couples call. That was so nice. Berangkat. Telepon dimatikan. Sekali lagi.
Keberuntungan, window untuk setiap penerbangan.
“Lucky ME!”
Yeah, lucky. Just LUCKY
Chapter VI
Changi International Airport. Just sch as dreamy
international. Sangat nyaman. Free internet access. Bersih. Mewah. Elegan.
Singapura. Macan asia. Kita mesti bertanya, bagaimana bisa? Negara sekecil itu,
ada apa dengan Indonesia? Retorical questions, jangan jawab dengan permasalahan
budaya dan kedisiplinan apalagi kebodohan. Basi!
Delay, lama sekali, hanya untuk menunggu satu orang yang terpikat buat belanja di Singapore. Semua orang marah.
Kata gue sih, mungkin aja tu ibu tadi kesasar. Kenapa sih, Cuma telat 30
menitan aja kok. Apa yang dikejar2 c? waktu? Ga bakalan kekejar deh kalo
ngejar-ngejar waktu.
Lepas landas. Gue selalu suka lihat yang gemerlapan di bawah
sana. Dan yah, I get what I want. Bumi yang gemerlapan kala malam. Cantiknya.
Tiba-tiba sudah pagi. Beijing. Peking. Bandara mengerikan.
Ga juga c sebenarnya. Bersih. Gua ga sepakat dengan temen-temen yang bilang
Beijing jorok. That’s fine kok. Inspeksi yang ebih ketat di China, lbih ketat
daripada di Indonesia. Petugasnya lebh banyak. Sangat banyak dan kita bisa
ngevote pelayanan mereka. That’s cute. Sebagian ada yang sangat ramah. Sebagian
senyum massal ala kadarnya dan sebagian lagi ngggak sama sekali. Yang paling
parah adalah sebagain dari mereka ga bisa bahasa inggeris. Bener2 deh. Ga ada
hal yang menarik terjadi selain pesawat kami delay dan kami harus ngegembel
lagi di bandara peking itu, sekitar 4 jam. Kami semua dapat makan siang gratis
di airportnya. Anak2pada beli souvenir. Heran. Padahal segala sesuatu belum
pasti di amrik sana, dan mereka beli souvenir? Aah, sudahlah, itu uang mereka
juga, ngapain aku ikut campur?
Menuju Amerika (SF) naik pesawat yang namanya United Airlines.
Ternyta kaya gini pesawat amerik. Ga begitu bagus, ga bisa dibiilag baru juga.
Boeing, gede buangetz, tempat duduknya sampe M (di Indon Cuma sampe F) tapi dia
punya channel yang bisa kamu dengerin kaya denger mp3, denger radio lebih
tepatnya. Dan kamu bisa nonton tipi juga. Asik kan? Mana makanannya banyak
banget lagi. Dikit2makan. Sama kaya garuda, prmugara dan pramugarinya udah
sepuh-sepuh, ga ada yang genit2, semok2 kaya pramugari maskapai ecek2 Indon.
Agak aneh juga. Kan konsepsi pramugari ideal itu yang bodinya bohai gitu yak.
Nah, ini mah kagak. Mereka just looks like orang ebanyakan. Cukup ramah, tapi
seperti pramugara dan pramugari pada umumnya, maksudku,. Mereka-merka yang
mengerjakan pekerjaan yang sama setiap harinya, ya, anda bisa merasakan senyum
dan ucapan terima kasih dari mereka, rasanya hambar en garing banget. UA better c, dalam artian ada
juga yang sangat taking care sama enumpangnya. Setidkanya mereka menyelamtkan
beberapa dari kami dari makan pork. Sayangnya (untungnya) gua ga termasuk.
Again. I get window. Penerbangannya so far so ggod. Landing
dan take offnya mulus ga gedebag gedebug kaya sebagian pesawat Indonesia,
spesifiknya LA, meskipun untuk telatannya, ya sama aja gitu.
SAN FRANSISCO. 8 jam perjalanan dari Peking, kita nyampe SF.
Pagi hari. Proses imigrasinya, ternyata Cuma gitu aja. Biasa aja. SF juga biasa
aja nothing so much to scare or to worrying about. Ga kaya yang di PDO-kan. Ga
setegang tu. Ya, dan kita musti belajar antri… =) di belakang garis kuning, dan
antri di batas line ijo cos line merah itu buat citizen. Nama pemeriksa gue
PapaGeorge. Dia tahu banyak soal Indonesia, dia tahu Aceh, seenggaknya, papa
George mau ke Indonesia suatu hari nanti. Mungkin bosen sama kerjaannya. You
know, mekanikal banget, ngecap, entry, you go there, Next, ngecap, entry, you
go there, next, gitu doang tiap hari.
Beberapa dari kami yang cowok kena secondary inspection tapi
mereka ga kenapanapa semua, malah pengalaman yang lucu kata mereka. Kami
dijemput sama orang2 dari IIE sponsor manajemen beasiwa ini. New Yorker yang
ramah. Tapi yang gua pelajari sekarang adalah some of American people just
doing best for her work so they can get their money for it. Mereka ramah, tapi
seprttinya agak dibuat-buat. Another prejudice. Pesawat kita lagi- lagi delay.
BUt thanks atas delaynya, kami jadi bisa lihat night scenery west coastnya
amerika. Dan lagi-lagi me in the WINDOW!!!!
Menyenangkan. Puji tuhan. Subhanallah, indah banget banget
banget. Kami tiba di Bandara Portland. Dan masih ga percaya kalo kita dah di
amerika. Di Portland kita dijemput Melinda Sayavedra our ELI advisor. Perjalanan
2 jam. Nyampe dorm jam 10 malam dan disambbut salju rintik-rintik.
Snow. Just like streofoam pouring. Tapi tetep aja indah .
banget.
Kami akan tinggal di Cauthorn Halll, semacam dormitory
dengan fasilitas cukup lengkap. Meal card 825 dollar (bisa diuangkan ga ya kalo
sisa?)
Such a nice place. And such a nice trip that we gonna had.