Kisah Petualangan Gadis Ibu Kota Gadungan
November 10, 2008 by aivie-ffha
“Ayo ke Jakarta, yuk, rame-rame, liat pemeran pendidikan Eropa,” ucapku semangat. “kan asyik, rame”, rengekku manja. “naek ekonomi biar murah,”rayuan maut aku lancarkan. Singkat cerita aku berhasil memperdaya upik abu dan tiwi wi wi untuk ikut ke Jakarta naek KA Progo, kereta api ekonomi semi bisnis dengan AC alami. Sementara Ino-Mita naek kereta api bisnis murni dengan AC kipas angin. Di Jatinegara kita bertemu. Setelah menunggu kurang lebih 1,5 jam yang kita habiskan dengan ngomentarin foto cowok ganteng sok cool dengan macan di sebelah kanan yang menoleh ke kanan dan elang di sebelah kiri yang menoleh kiri. “Pria punya selera”. Demikian judul poto itu. Akhirnya kereta bisnis gejes2 datang juga. Cabut ke tempat ino dengan mengendarai burung biru. Berasa orang kaya aja, naik taksi, coy!
Sampai ke tempat ino, kakaknya yang hamil mau melahirkan. Alhasil seharian di rumah ino, menghabiskan persediaan makanannya. Ho5. Ajaibnya, sorenya kakaknya udah pulang lagi dan membawa bayi. Wow! Benar-benar persalinan yang ajaib. Membuatku optimis dapat melalui hal tersebut dengan selamat! Semangat, fa! (apa sih?). bayinya lelaki. Kakak si bayi, cewek, namanya sofi, lucu sekali, berhasil kudekati tanpa tangisan dan perlawanan yang berarti. Senangnya! Akhirnya, ga jadi baby enemies lagi. O, ya satu lagi toko figuran, muti, adiknya ino, anak es em pe yang lebih bongsor dari gue T.T. thanks ya mut udah nemenin ke warnet terdekat, serta tante yang dengan sangat baik hati rela rumahnya kita recokin. Thanks ya tante. (kok kayak bikin kata pengantar skripsi gini? LOL)
Okey, perjalanan para gadis gadungan ibukota dimulai pada hari sabtu 1 november. Setelah puas naek angkot dari cibubur lewat ciracas, cijantung, dan ci ci yang lain, terasuk juga lewat tempat pembuangan mayat korban mutilasi, kita turun di pasar rebo (catatan buat dinas perkotaan kalo mau mendirikan pasar lagi namain pasar selasa aja pak, kata ino, gadis gadungan ibukota yang paling professional, pasar selasa belum ada). Kita nek buswae…sampai puas gelantungan..yah, lumayanlah ya exercise mengencangkan otot lengan sekaligus melatih keseimbangan kordinasi gerak tubuh, kegesitan, dan kecekatan. Setelah sempat terpisah dengan tragis oleh tembok buswae. Kita bertemu dengan selamat di shelter berikutnya. Dan meneruskan perjalanan. Yah, setelah sempat berpoto bersama di beberapa shelter buwae, rombongan para gadis berhasil mencapai balai kartini –tempat berlangsungnya pameran- dengan selamat. Ruangan yang besar dan luas, yang memungkinkan anda tersesat di dalamnya. Apalagi makhluk mungil nan bodoh peta seperti saia, yeah. Stan dibagi per Negara. Kurang lebih ada 90 insttusi pendidikan eropa dengan Negara peserta tentunya Negara-negara yang tergabung dalam uni eropa. Bertemu dengan beberapa kolega, seperti Hikmah, Tiara, mbak Dian, en Diendut –teman kakaen-. Melakukan ritual; ngegosip. Ho5. Singkat cerita, entahlah dengan sekawanan gadis yang lain, ceritanya kita misah, dan bertemu kembali untuk makan siang serta mengantri buat liat presetasi Erasmus mundus (beasiswa yang gue setengah mampus mengharapkannya). Yah, dan rasa laparlah yang mempertemukan kita di stan makanan yang dibuat langsug oleh seorang chef –namanya bukan puji, emangnya syeh puji-. Mata langsung melotot liat daftar harga; es trh harganya 10 ribu. Aje gile Jakarta raya…10 kali lipat harga es teh Yogya, teh impor kali ya?
Presentasi Erasmus mundus. Gitu-gitu doang.singkat cerita; ceklah alamat web site. Yah, kalo Cuma disuruh akses alamat websitenya mah, gue gak usah jadi gembel Jakarta! Uh uh. Tapi gak papa. Itung2 refreshing liat bule-bule dan co2 jakarta yang kece-kece. Yah, seenggaknya mengamati perilaku homo jakartensis merupakan ksenangan tersendiri buat gue. So, beasisswa Erasmus mundus ya, sejauh ini beasiswa yang gue kejar adalah NOHA, humanitarian action, adanya di Groningen, Sweden, dan 2 negara lagi gue lupa. Langkah terdekat adalah mendownload aplikasi EM, NOHA, dan HSP Huygens, melihat list yang dibutuhkan, dan belajar buat TOEFL; 580 ITPdi Surabaya. Prepare for that lah selama menunggu 19 november, hari wisuda gue.
Setelah megikuti presentasi itu, kita misah. Upik ketemu temennya, terus the rest of gerombolan gadis mengantarkan mita yang udah kebelet ngerjain proposal skripsi. Kitapun mengantarkan mita ke gambir. Setelah terbiasa bergelantungan di atas buswae, para gadis dengan mantap memutuskan menjadi banci monas. “mit, foto, gue belum pernah poto dengan latar belakang monas,” pinta gue dengan noraknya. Alhasil, para gadis pun bergiliran foto dengan latar belakang monas, sembari diiatin supir bajaj gambir. Sampai di depan pagar Monas, situasi mulai menggila. Ceritanya, para gadis dikejar fans-nya yang mau berfoto bersama. Aduh duh capek deh. Mana fans-nya bandel, maunya nampang aja, padahal udah gue bilang lo; “mas-mas, ini ni buat poto album single terbaru kita, mas, jangan ikutan yah, entar barter sama tanda tangan kita deh…” kita pun kemudian dengan suka rela berfoto bersama fans kita yang pendiam dan penyuka kacamata kuda, -si kuda ondel-ondel-.
Stelah melalui sesi pemotretan kita kemudian melanjutkan dengan sesi wisata kuliner. Tempat tujuan kita adalah Ragusa. PAra gadis memanjakan lidah dengan ice cream italia yang dijual orang cina. Hidup globalisasi! Dasar para gadis yang hidup di dunia ketiga, ternyata hidup para gadis selama ini ditopang oleh pinjaman lunak antar sesama, hingga tiba saatnya membayar bill, para gadis bingung menghitung utang dan menarik pinjaman. Tingkah para gadis mengundang senyum mas-mas penjual otak-otak, yang sayangnya enggan member diskon meski para gadis telah memberikan senyumnya yang paling manis.
Di atas buswae para gadis melepas kepergian mita kembali ke bumi Yogyakarta hadiningrat dengan kereta api taksaka. Tinggallah gerombolan gadis bertiga, diiringi Jakarta yang mulai gelap tapi tetap lincah, petualangan dilanjutkan di atas buswae yang penuh orang berjubel, lagi-lagi jadi monyet, gelantungan gak jelas. Emang dasar kota yang aneh, orang-orangnya hobi banget gelantungan. Yang paling gue kenang hari t adalah betapa lelahnya menjadi homo jakartensis, padahal hanya untuk ukuran bersenang-senang keliling kota harus dihabiskan dengan cukup banyak keringat. Yeah, mungkin aku yang terlalu manja dan kolokan. Kitapun sampai kembali di cibubur hampir pukul 9 malam, setelah menempuh perjalanan darat 3 jam, kayak ygy-smg. Setelahnya aku eperti biasa, langsung lelap tanpa mandi. Tidak menyangka hari berikutnya akan kami lalui dengan lebih absurd.
wheleh..
ngapain harus ke jakarta..?
di jogjah ajah jg ada..