Kisah Petualangan Gadis Ibu Kota Gadungan – The Other Series
November 10, 2008 by aivie-ffha
“Dalam setiap perbuatan baik, (meskipun kecil) ada maknanya.Mungkin dunia tak akan berubah drastis (dengan perbuatan-perbuatan kecil itu). Tapi, dunia kan memang tidak pernah berubah drastis,”
Gunawan Muhammad
Sepakat. Perjalanan ke Jakarta memberiku banyak hal. Bukan Cuma rumitnya kota itu (yang membuatku dan Tiwi terserang PTBD –Post traumatic busway disorder, lihat erita sebelumnya), tetapi juga kompleksitasnya akan banyak hal. Otak bodohku tidak sanggup mencernanya. Apalagi ditambah dengan antisocial akut serta keegoisan tigkat tinggi yang kualami. Ini tentang ironi kehidupan. Biasa saja bagi kebanyakan orang dan mungkin dimaklumi sebagi hal yang, “well, not surprise”, or “welcome to the jungle, dude!” tapi, bagiku rasanya tetap seperti naik bumb bumb car dan kamu menabrak car lawan.
Anak kecil berbaju merah itu memiliki rambut yang indah. Ikal. Dikuncir ekor kuda. Warnanya tak legam hitam, tapi merah kecokletan, warna kreasi mentari untuk kepala mungilnya. Usianya tak lebih dari 4 tahun, kukira. Angkotan kijang biru kami dengan nomor rute perjalanan T15 sedang berhenti di lampu merah ketika ia masuk dengan mata sayu seraya menyerahkan amplop putih kecil pada setiap penumpang. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, seperti menghindari kontak mata. Dari arah luar terdengar suara anak kecil lain berteriak; “Cepetan, udah mau jalan!”, dan tak disangka-sangka, si mungil manis menjawab dengan teriakan kasar dan garang, “Iyaaaaaa!”. Tidak ada nada manja yang biasanya keluar dari bibir mungil anak seusianya, itu ungkapan geram, gusar, dan lelah. Aku terdiam. Mungkin miris. Karena tak mampu memberikan apapun untuknya. Uang? Tentunya akan diambil oleh orang yang tega memperkerjakannya. Aku marah pada diriku sendiri yang Cuma bisa diam dan bengong, bahkan sempatsempatnya tersenyum. Seolah berharap seulas senyum itu dapat menghapus beban harinya yang berat.
Kalau sudah begitu, aku jadi berpikir; buat apa semuanya. Buat apa sekolah tinggi kalau jadi tak mampu berhadapan dengan itu semua. Buat apa jadi sarjana. Apa yang bias kulakukan, selain tersenyum berdoa memberi receh, permen, susu, nasi bungkus. Buat apa cari beasiswa. Sekolah ke luar negeri. Gila rasanya. Berlebihan! Ayo, fa; BERPIKIR!!! Sementara ego dan konsep diri menuntut kamu harus begini begitu,bekerja di tempat yang menjanjikan dengan bayaran tinggi, sekolah tinggi sampai ke Negara penjajah –mereka yang melahirkan sejarah kemiskinan di negeri ini dan berteriak teriak “make poverty history!”-.
Seperti puisi yang aku baca sama ditong di salah satu terbitan berkala mahasiswa, “perasaanku seperti air laut yang tak asin”, kalau tidak salah begini bunyinya;
“Rasa bingung jika aku pikirkan berubah menjadi rasa sedih
Rasa sedih jika aku pikirkan berubah mejadi rasa marah
Rasa marah jika aku pikirkan menjadi rasa kecewa”
Ya, perasaanku seperti air laut yang tak asin. M e m b I n g u n g k a n.
Pesan moral; tetap semangat, fa. Ayolah, terus berharap, terus menghidupi mimpi. Sekarang, fa, sekarang kamu bukan siapa-siapa, kamu tidak bias beri apa-apa. Itu sekarang, fa. Bukan nanti. Jangan tutup hatimu. Kamu bias lakukan sesuatu. Dan jangan gengsi berikan sesuatu yang kecil. Ayolah, fa. Jangan termakan mimpi gigantis. Untuk yang satu itu jadilah realis. Jangan lupa selipkan syukur pada setiap doamu atas apa yang kamu dapat hari ini.
perbuatan besar kan memang dimulai dari perbuatan-perbuatan kecil, fa…
lagipula, perbuatan yang menurut kita kecil-meaningless-bagi orang lain (yg kita tolong), akan sangat berarti-meaningfull…
=)
keep movin’ forward fa..