Kisah Petualangan Gadis Ibu Kota Gadungan – The DramaQueen Series
November 10, 2008 by aivie-ffha
Hari kedua itu hari minggu, diwarnai dengan kebingungan bagaimana rencana selanjutnya. Sempat gerombolan terpecah, terbentuk kembali dan akhirnya mecah lagi. Rencana hari itu; aku berangkat berdua sama teaway; tujuan setiabudi-ketemu temanku si swesti yang udah kerja jadi akuntan public dengan gaji jutaan, nitip tas, pergi lagi ke ehef, ke setiabudi ambil tas, dan langsung ke senen, diasana upik sudah menunggu dengan tiket di tangan. Baiklah, peta urutan bus juga sudah di tangan.
Awlanya lancar, sangat lancar. kita naik T16 terus ganti S15A. sempat dapat koring seribu pula dari harga standar. di tengah jalan, ternyata lewat rumahnya kakaknya tiwi. Kitapun singgah sebentar di rumah kakaknya tiwi yang cukup manis dan akan segera menikah dengan calon kakak ipar tiwi. Begitulah kira-kira. Pulang dengan uang tambahan di tangan tiwi. Aku pun optimis akan dapat traktiran. Singkatnya kita naek angkot dan ganti buswae. Terus di atas buswae disapa seorang mbak2 yang mau ke European higher education fair (ehef) juga, memberikan info yang diperlukan. Tak berapa lama, tujuan setiabudi terlewatkan stelah tidak berhasil keluar dari bus wae, telat nyadar gara-gara ditelon sama mita –the other gadis yang udah di yogya ketika itu-. Sementara di halte berikutnya, karena gak peka, tiba-tiba buswae udah berhenti, tanpa bilang “pemberhentian berikutnya…”, teaway –yang kebetulan dekat dengan pintu- udah turun duluan sementara aku masih bengong, berusaha turun, tapi terlambat. Teaway turun di shelter latuharhari. Perpisahan itu diiringi oleh luapan ekspresi ‘hore’ dari mulutku, sementara ekspresi wajahku datar saja. Bear-benar kontras. Kaya ekspresi si sindentosca yang nyanyiin lagu “kepompong itu”. Dari arah seberang, teaway nampak berdiri mematung di pintu kaca busway yang menutup. Benar2 adegan yang dramatis. Pintu busway itu telah memisahkan kami! Seperti tembok berlin transparan. (berlebihan mode on)
Aku turun di shelter berikutnya; halimun. Tak menyangka itulah awal dari ‘halimun’ yang sesungguhnya. Tak sempat bertanya, dan sepinya shelter membuatku melangkah pasti naik bus dengan arah beralawanan, snpat terbaca tujuan dari busway itu; matraman-pulogadung. Dasar spesialis nyasar. Akupun dengan sukses nyungsep sampai manggarai. Setelah mendapat pentunjuk dari seorang mbak-mbak penumpang (bodohnya kok aku nggak nanya sama mas2 buswaenya aja ya!). dan aku melihat sepasang mata menatapku, dialah seorang mas2 ganteng yang menjadi salah satu saksi perpisahanku dengan teaway di busway pertama. Aduh, tobat, malunya!!!! saat itu aku masih cukup tenang dan sok cuek, telepon dari teaway aku sahuti dengan dingin; “tunggu di situ, aku kesitu”.
Turun di manggarai akupun menanti bus menuju dukuh atas, seperti yang diceritakan mbaknya. Tanpa tahu bahwa dukuh atas ada 2. Sementara itu aku mendapat kabar dari teaway yang sedari tadi menunggu di pemberhentian setiabudi utara aini, bahwa shelter setiabudi itu ada 2. Saat itulah aku mulai panic. In the middle of no where, akupun bertanya untuk menuju setiabudi pada mbak jaga buswae. Arah blok m, demikian ujarnya singkat, kayak gue tahu aja arah blok em mana. Dan gue dengan tatapan bingung menatap mbaknya, meminta penjelasan lebih lanjut, tapi datanglah si buswae, gue terdorong arus massa, mbaknya bilang itu nanti ganti ganti ke arah blok em di dukuh atas2. Sampai di dukuh atas 2, gue naek tangga panjangnya tiada terkira sesuai petunjuk, “blok m anak panah item ke atas”. nunggu buswae menuju blok m. dan setibanya si buswae naeklah gue, muter2lah sampai bunderan HI, PI, dan sebagainya itu. Dalam kepanikan dan kenyasaran gue, sempat gue ditanyain sama mbak-mbak, “mbak mau ke ehef?”, kata gue; “udah kemaren mbak”, terus kita basa basi, sampai kemudian dia Tanya; “jauh-jauh dari yogya Cuma mau ikutan pameran?”. Guepun tersenyum dengan anggunnya dan segera mengesemes ino, apakah gue berada di jalan yang benar, dan dia bilang itu udah terlalu jauh, dan guepun bertanya-tanya..”perasaaan gue dah mencoba mengikuti petunjuk orang-orang”, guepun bertanya pada mas buswae, gue disuruh turun di monas, ambil jalur yang sebaliknya… dalam kebingungan gue mengikuti sarannya.
Turun di shelter monas, guepun naik buswae entah jurusan apa, yang penting kata masnya setiabudi aja. Gue turun di tempat yang diancer-ancerin temen gue. Da vinci, dan chase plaza, berhasil bertemu dia, ngerampok 2 botol susu cokelat, ngabisin taronya dan kitapun tancap ke ehef di kuningan timur. Dan the fuckin shitnya adalah; kost-annya itu deket sama shelter dukuh atas2. Jeng2! Tau gitu gue ga usah jauh2 nyasar sampai mana2… T.T,
swesti, gadis itu, sekarang udah berjilbab. Bener kata dia, everybody’s changing. Tapi gue berasa diam di tempat. Aku ingat dia, lebih tepatnya kita; aku, swesti, dan yoa serta pelajaran agama. We are the rebels. Ga secara terang-terangan; bagi kita agama itu nilai, maksudku angka raport. So, nilai kita normal ya, 8-9 gitu deh.. tapi jangan Tanya pandangan kita soal agama. Don’t mention it, lets talk about brad pitt, aniwei! So, swesti, cewe beruntung nan berotak cerdas itu berhasil menjadi lulusan termuda Agustus kemaren, cum laude pula, IPK 3,76, penyandang beasiswa Pertamina, dan udah diterima di Ernst&Young dengan gaji bersih 3,6 juta sebelum wisuda. Iapun berkisah, jika ada lembur dan rame klien, 7 juta sebulan mah gampang. Tapi, dia tetap swest sederhana yang gue kenal; “aku masih pengen masuk be pe ka aja daripada kerja gak jelas kayak gini, kerja apaan sampai jam 2 malam, kadang makan gaji buta”. Well, dia tetep temen gue yang gue banggain.
kitapun pergi ke kuningan timur. Teaway udah nyungsep di pasar festival. Dan gue ke pameran lagi. Sampai disana, ternyata udah abis2an. No freestuff anymore. Tasnya abis. Terus tinggal fotokopian selebarannya. T.T. Mereka emang penjual ulung, kalo kata temen gue; welcome to the new world, semuanya bias diual sekarang, semuanya, pendidikan juga, lintas batas Negara, setelah itu lo diajarin pake logika sana buat nanganin masalah negerimu.. selamat selamat. Itu membuat gue mikir juga. Kata gue emang kita idup dalam jaring kepentingan, apa yang bisa kamu harapkan? Selama merka masih ngasi beasiswa, selama gue masih mampu untuk ngejar beasiswa itu, belajar sampe bego dan cukup punya kapasitas untuk melakukan sesuatu, dan tidak lupa melakukan banyak hal kecil untuk mengubah keadaan, men. Apa yang lo harapkan? Yesus turun ke dunia, menyelamatkan umatnya? Ato lahir titisan nabi Muhammad yang membawa langsung umatnya menuju kerajaan surga? Ato obama jadi nabi selanjutnya? Well, kalo itu emang terjadi, aku harap mereka cukup bijak untuk tidak egois, menyelamatkan umatnya masing2aja.
So, akhirnya aku ikut presentasi DiKTI, bapaknya yang presentasi udah sepuh, mungkin namanya John, tentengannya macintosh, gayanya kaya orang jepang, kulita dan bentuk luarnya juga kayak orang jepang. Selintas gue kira, DIKITI udah dikuasai Jepang, and I want to say thanks again to globalization. Tapi ternyata dia orang Indonesia, yang lucu. Well, tak harus berburuk sangka dulu tentang institus Indonesia, terutama departemen penidikan, setidaknya ada effort untuk meningkatkan kulitas pendidikan, kalo orang-orangnya yang kecipratan kebaikan departemen tidak egois mengenggam keuntungan untuk diri mereka sendiri, dan punya keinginan kuat untuk membagi apa yang dimilikinya tersebut, entah pengalaman, entah values, entah semangat, apapun itu, tidak untuk kepentingan gengsi dan memperpanjang nama, aku pikir dampaknya akan dahsyat. Impossible is nothing katanya adidas, dan gue percaya itu, sepercaya gue pada keinginan kuat, harapan, dan cinta pada hidup. Intinya adalah, pemerintah menganggarkan ratusan milyar untuk nyekolahin 800 dosen (di tahun 2009) kemana aja yang mereka mau, selama 2 tahun maksimal. Serta 200 dosen untuk program sandwich. Indonesia emang keren banget. Sekeren UGM. Tapi tentunya kalah keren ketimbang gue. Halah…
Pukul 16.45 gue cabut dari balai kartini yang kian sepi. Like I said before, no more other free stuff. Wes bali wae. Ditunggu teaway di pasar festival. Dan yang nggak gue prediksikan adalah buswae yang penuh banget. Berkali-kali seperti itu, udah hampir jam 6 dan gue masih jedondot di shelter busway Kuningan timur, terbengong-bengong melihat tumpukan makhluk hidup bernama manusia di dalam buswae yang udah berjubelan ga karuan. Terpikir; aku harus nekat, bisa-bisa, para gadis ketinggalan kereta ke yogya….jam 9 malam berangkat dari senen (liat kisah tragis di Jakarta, 2 tahun yang lalu saat aku ketinggalan kereta menuju yogya dan terdampar di kereta api tawangjaya menuju semarang, archieve sept 2006). Dan akupun nekat. Niatan nekat pertama kandas, gara-gara diduluin mas2 yang dengan gilanya masih mencoba masuk saat buswae setegah berjalan… GILA! Niatan kedua berjalan hampir kandas, setelah gue neat masuk, tasku yang segede bagan dengan forsifa didalamnya kejepit pintu buswae. Aku segera mengambil jalan nyelempit kea rah belakang. Bergelantungan sambil minta maaf karena kayaknya aku nginjek banyak kaki manusia deh. Sampai di bagian belakang, aku ga dapat tempat gelantungan, ngegusur feet space seorang mas-mas yang lagi sama pacarnya.. aku hampir yakin kalo ga dapat menjaga keseimbanganku aku baklan jatoh tepat dipangkuan mas-mas yang nggak ganteng ini, terus gue disiksa langsung sama mbak-mbaknya… benar-benar mengerikan. Ternyata imajinasiku nggak kejadian… dengan wajah puat, dan mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah SWT, akhirnya aku berhasil turun di shelter sumantri dengan keadaan hidup. Menghubungi teaway dan tidak dibalas. Aku benar-benar hampir putus asa. Diiringi hujan rintik2, gue ngebayangin; teaway udah ke senen, sementara pulsa gue abis dan ga bisa ngehubungin siapa2, dan gue gak tau gmana caranya dari sumantri ke senen. Duit ampir abis. Sementara gue lemeees banget. Mata berkunang-kunang. Dan lagu “Yogyakarta”-nya KLa , berkumandang syahdu di lubuk sanubari…. bergantian dengan lagu Ebiet G. Ade, “aku ingin pulang”….. dan ketika teaway membalas, bahwa dia ada di lantai 2, dengan langkah gontai aku naik tangga, begitu sampai dan menjumpai wajahnya, aku tersenyum dan bilang; “aku mau pulang”…
Teaway, gadis manis itu akhirnya nraktir bistik aneh, dengan baked potato, dan es yang bagiku segar banget, diiringi band panda yang nyanyiin lagunya mister big, teaway menatpku sambil senyum2 ga jelas. Benar-benar situasi yang absurd. Kita keluar, rencananya mau cari buku yang dapat menemani perjalanan, tapi ga dapet. Kitapun langsung tancap ke senen, waktu menunjukkan hampir pukul tujuh. Setelah menanyakan pada taway keastian rute, akupun pasrah. Lelah nyasar lebih tepatnya. Dan ternyata, kami tetap nyasar.
Keanehan yang pertama adalah bisa-bisanya aku nggak liat ciriciri Senen yang demikian mencolok. Kita berhharap melihat “senen” di tulisan shelter yang terpampang tanpa tahu bahwaharusnya kta turun di “atrium”. Aku bertukar pandang kea rah teaway, merasa ada seuatu yang aneh. Ternyata itulah pertanda. Kami, lagi-lagi nyasar, gak tanggung-tanggung, sampai Pulo Gadung. Semua orang buswae rebut begitu tahu kita nyasar. Dan sebalnya, adalah pas aku memberanikan diri nanya ke bapak yang disebelah gue, gue malah dimarahin. Makasih ya, pak, bapak menambah kepanikan kami. Untungnya ada ibu-u jawa timur baik hati yang member nasehat dan pentunjuk. Kita turun ngikutin petunjuk si ibu. Dan ternyata pulo gadung menahg keras. Satu tanggapan dari teaway membuat kita dikejar orang-orang yang punya kepentigan terhadap nyasarnya kami. Di tengah kesialan, untungnya kami cukup beruntung,si ibu baik hati menyelamatkan kmi dari perang kepentingan yang mengerikan itu. Kami pun dengan selamat naek T27 menuju Jtinegara dengan pertimbangan waktu dan keamanan. Pukul 9 kurang kami sampai di jatinegara, menurut jadwal pukul 9.10 kereta akan sampai jatinegara. Kami masuk, membeli peron, mengalami sesuatu yang absurd. Dan lagi-lagi… sesuatu yang kurang menyenangkan.
“untuk penumpang kereta api progo, harap menunggu, karena lokomtof baru akan diberangkatkan dari jainegara menuju stasiun senen”
“untuk penumpang kereta api progo, harap menunggu, karena lokomotif baru saja dipasangkan di stasiun senen”
Menurutku itu absurd, sementara aku terima SMS dari ino; “fa, liat gak, kereta apiku lewat nih, kamu udah ketemu tiwi?”. Yeah, ino emang naek taksaka, kali ini kelas kereta api dengan tragis memisahkan kami. Sementara di sudut gembel yang lain aku dan teaway bertemu gadis ibukota gadungan lain di jatineagara, hikmah dan mbak Francy (actually, aku lupa namanya). Dan kitapun ama-sama menunggu PROGO. Kereta api yang akan membawa kami pulang menuju abnormalitas hidup.
Aku dan teaway sama-sama berdoa semoga sekembalinya kami dari Jakarta, akan menghilangkan Post Traumatic BuswaeDisorder (PTBD) yang mendera kami dengan bertubi-tubi. Bagaimanapun, pengalaman dengan buswae cukup membuat kami shock dan considered pengalaman traumatis gitu loh. Hal ini bukan maen-maen pembaca, teaway aja di dalam kereta api PROGO, pas kita lagi ngetem lama banget di Cirebon –nunggu kereta api eksekutip lewat; nasib tragis kelas ekonomi, harus ngalah sama eksekutip lantaran rel terbatas-, menunujukkan tanda-tanda alias sipmtompt PTBD. Dia dengan agresifnya mengambil botol aqua setengah kosong, memukulkannya ke meja dekat jendela, dan menggoyang-goyangkannya bak seorang demonstran (atau supporter sepak bola?) kemudian berteriak-teriak “pulang-pulang-pulang!”. Catatan; it was in the middle of the night loh! It was so obvious kan kalo PTBD harus dicantumkan dalam PPDGJ (Pedoman Penanganan dan Diagnosis Gangguan Jiwa), sebagai salah satu disorder.
hari yang absurd diakhiri dengan tibanya kami di bumi ngayogyakarta hadiningrat. tentunya ditutp dengan lagu india yang jadi soundtrack perjumpaan dengan kekasih, yang sempat diwarnai keributan kecil, biasa; sebal menunggu. heu heu…
pesan moral;
“…check your belonging and step carefully!!!!
thank you”
tidak mudah memang menjadi homo jakartensis maka sebagai manusia yang saling bertenggang rasa, sudah sebaiknyalah kita menerapkan perilaku tepo seliro, “monggo mas… ndisik wae…”
yogya… i am in lop lah pokokeeeeee
seru..seru…
pelajaran pertama naik busway, kita harus pegang semua rute dan jalur busway-nya..
jangan segan bertanya (jangan baru nanya gara2 kesasar), sama mbak2 yg jaga loket busway n mas-mas yang didalem buswayny arah tujuan kita - biar ntar diingetin kalo udah deket..
jangan duduk ato berdiri terlalu jauh dari pintu (susah keluarnya, harus teriak missiii….misiiiii….)
orang2 dijakarta udah kaya orang2 di jepang, semua jalan cepet2, semua mau cepet2, seperti di busway dan shelterny..
jangan ragu ‘menyelinap’, untuk bisa dapet paling depan..apalagi ifa kan kecil….hehe…piss..
hahahaha
critanya lucu banget fah….. seru2…
kalo aku yg nyasar mesti udah binun banget tuh, hehehehe…
sukses yah buat beasiswanya^^
hhmmmm… jadi merasa bersalah nih tidak bisa menemanimu di hari ketiga… well, kalo ada gue, lo gak bakal ngalamin pengalaman yang tak terlupakan ini bukan? hehehe…
check your belonging and step carefully