Imago Dei
September 14, 2008 by aivie-ffha
Sebenarnya bagaimana rupa Tuhan?
Hmmm. Aku menyepakati ujaran Reti, yang mungkin ada benarnya juga. Sebenarnya tuhan adalah psikolog behavioris yang handal. Terbukti tuhan sangat getol mengatur laku manusia lewat ancaman, peringatan, dan janji membahagiakan. It is so reward and punishment. Mungkin piker Tuhan itu merupakan cara terbaik mengatur keseluruhan bangsa. Membuat sesuatu menjadi undebatable seperti alqur’an (tidak ada keraguan (atau kewaguan?) daripadanya). Lalu mengisinya dengan kabar gembira dan peringatan. Tiba-tiba tuhan menjelma jadi sosok yang sangat posesif, “awas lo, gak nyembah gue, gue masukkin neraka lo, hayo-hayo!”, “awas lo gak percaya kitab yang udah capek-capek gue turunin ini,” tuhan juga seolah takut banget diduain (awas lo nyekutuin gue), apalagi diduain ama patung, wuah tersinggung banget ego Tuhan nampaknya. (heh, masak gue dilepelin ama patung?????please dong deh, manusia-manusia, awas lo lo pade, udah susah-susah gue ciptain eh malah nyembah patung bukan gue). Neraka, siksa yang keji kemudian menjadi kata kunci yang seolah menjawab kedongkolan tuhan karena buruknya sifat manusia baik terhadapNYa maupun terhadap sesamanya. Kitab yang dibuat tuhan dan dikirimkan lewat kurir khusus kemudian rencananya menjadi petunjuk bagi manusia, semacam buku tuntunan; “1001 cara menyenangkan hati tuhan, diberi kemudahan dalam hidup, dan hidup kekal dalam surgaNya”. Lucu juga, ternyata tuhan sangat dominan dan pengatur ya? Buktinya katanya dia gak mau nerima cara mencintai yang lain. Cara mengingat gue ya itu Cuma satu. Jalan agama yang sahih juga Cuma satu, yang lain nothing. Masuk neraka aja lu. Kan udah gue turunin kitab terakhir, dasar manusia banyak bacot, kalo banyak bacot ntar masuk neraka lo.
Masak sih tuhan arogan, berpamrih, dominan, egois dan posesif??????
Ketika tuhan memberi kesempatan kita untuk hidup, sebenarnya apa maksudnya, benarkah kita ‘hanya’ diminta untuk menyembah, memuji, beribadah dan mencari ridloNya (yang jelas tertulis guidelinenya dalam alquran), lantas apa benefitnya urip bagi manusia, sebagai individu yang berproses loh ya…
Aduh tuhan, tuhan, iseng sekaligus misterius banget ya Kamu. Pantes banyak orang yang tergila-gila sama kamu, rela mati demi kamu segala, kamu memang benar-benar digdaya (ya iyalah, tuhan gituh!)
Aduh aduh kayaknya gue mesti sedikit positivis memandang wajah tuhan. Gue masih percaya tuhan itu maha baik. Dan karena dia maha baik maka dia gak mungkin menjadi maha jahat pada saat yang bersamaan karena bagi gue tuhan itu ya baek. Tuhan itu serba (tuserba). Serba baik, serba dewasa, serba wais. Gak mungkin ah tuhan sampe berpikiran dangkal menyaratkan cintaNya untuk umatnya, bagi gue kasihnya itu tiada berbatas. Sekarang ini aku lagi gak pengen taruh kira sama wajah tuhan yang galak, yang ngehukum sana ngehukum sini. Karena bagi gue, tuhan itu ya baik. Kayak kata alkitab kali ya (perjanjian baru mungkin); tuhan itu kasih. Maka kasihilah sesama (ya gak sih?). tuhan itu satu-satunya sumber harapan gue (suka banget deh sama Alam Nasyrah). –ya iyalah, mau berharap sama manusia takut dikecewain-. Kalo berharap sama tuhan kan dia emang suka berahasia gitu ya.
Sederhana, karena tuhan baik maka gue juga pingin jadi orang baik aja. Nah, karena jadi orang baik itu sulit, gue gak mau memersulitnya dengan ketakutan-ketakutan yang bersumber dari ‘jangan-jangan’. ‘jangan-jangan’ ini dosa, ‘jangan-jangan’ tuhan gak suka. Tapi kata tuhan juga dia ternyata tuh udah milih gitu yah, siapa yang mau dimasukkin neraka, siapa yang boleh ikut jalan Dia. Aduh bingung deh. Gak fair dong. Padahal tuhan kan gembar gembor soal berbuat adil gitu deh. Kata tuhan; “gak adil gimana? Kan gue udah nurunin buku petunjuk, nah elu gak mau nurut buku petunjuk bukan salah gue dong”. Heheh. Gue jadi tambah bingung. Tuhan katanya Cuma menginginkan jalan mudah untuk makhlukNya, tuhan juga katanya akan mengombangngambingkan orang-orang fasik. Tapi masak sih tuhan gak ngitung p-r-o-s-e-s?
Ah, gak tau.
Mungkin ini juga yang bikin Buddha gak nyinggung2 konsep ketuhanan. Gue lagi terkagum-kagum sama konsep etika kebenarannya (bukan berarti di kitab masterpiece tuhan gak ada lo ya). Reasoning berbuat baiknya itu lo, so deep touch my heart. Sumpah deh. [T.T] bukan lagi tanah terjanji atau tanah terlaknat tapi seuatu yang reasonable, kaitan kita dengan semesta, dengan sesame dan bagiamana perbuatan baik itu ternyata berdampak bagi diri sendiri. That’s the point, I think. Mungkin ini kode rahasia tuhan. Mungkin awalnya tuhan membuatnya kodenya sangat mudah, patuhi aj, tapi beyond that dia pingin kita memahami bahwa itu demi kebaikan kita juga. Itu yang gak terekam dalam kitab masterpiecenya itu.
“memberi akan mendatangkan kebahagiaan pada setiap tingkat pelaksanaannya. kita akan mengalami kegembiraan dalam rangka membangun niat untuk menjadi dermawan atau baik hati, kita mengalmai kegembiraan dalam tindakan nyata memberi sesuatu dan kita mengalami kegembiraan dalam mengingat fakta bahwa kita telah diberi.[lama surya das]”
Dia emang suka banget berahasia. Bikin aku jadi penasaran.
Perjalanan dan menemukan kelindan dalam keindahan mungkin menyenangkan meski hatiku diayun keraguan. Apa yang pasti dalam hidup? Selain Tuhan?
Aku lagi ingat Kamu dan aku gak shalat. Males. Aku lagi berdoa buat dunia semoga jadi lebih baik tapi bkan di dalam solat, aku lagi sujud minta maaf atas perilaku burukku sama orang tua tapi juga gak di dalam solat, mau kamu itung pahala ya gak apa mau kamu itung dosa juga gak papa. Manut waelah sama yag nggawe urip. Karena aku berlaku sesenangku dalam hidup yang kamu berikan padaku, aku seharusnya siap kamu ganjar dengan ganjaran apapun, lha wong kamu yang ngasi hidup kok. Sukak-sukakmulah, Han.
Bei de wei aku percaya manusia punya sifat-sifat bawaan yang merupakan sifat dasar tuhan yang maha baik (entah baca darimana). Ini yang mebuatku optimis bahwa aku bias jadi baik (dan mungkin bias jadi TUhan, jugak…hekhek, becanda loh, Han…^^, gak mungkinlah aku saingan sama Kamu)
…I love you for a sentimental reason…
Tuhan, bagi nomer ponselmu dong…
Eli,eli,lama sabhaktani!