brainstorm session
September 14, 2008 by aivie-ffha
Hummm. Kemarin ngobrol sama pak kelik soal aku diriku dan kisah-kisah berkelindan. Diawali dengan sesi persepsi mengenai airmata, pembicaraan berlanjut tentang tanda tangan lalu garis hidup, apalagi kalau bukan percintaan.
Aku piker aku mengalami transformasi rasa setelah kematian hati pada episode bulan ke sekian. aku piker aku mengawali sebuah kehidupan yang baru, memunculkan sisi aku yang menyingkirkan keangkuhan, yang mencoba terbuka dengan kehidupan meski rentan dengan kepura-puraan. Aku pikir aku sudah cukup jujur, menjalani hubungan yang dewasa, bertanggung jawab pada setiap keputusan, mensyukuri setiap kesempatan, peristiwa dan tindakan. Bukankah aku seharusnya bahagia dengan memertahankan kesetiaan? Tapi mengapa aku justru menginginkan kesendirian? Rupa-rupanya ada dia yang dikubur hidup-hidup itu perlahan coba bangkit lagi dari kematiannya. Semacam tanda peringatan, ‘bahaya’ ketika aku telah mulai percaya dan mungkin jatuh cinta. Tanda bahaya yang mengingatkan aku akan bahaya kegagalan, bahaya ketimpangan, bahaya kehilangan, lalu sampailah aku pada perasaan tidak aman untuk kesekian kalinya. Ia membangun kembali tembok ego yang dulu sempat runtuh atas nama kecewa, perasaan ketakberhargaan, dendam, dan bentuk mengasihani diri sendiri, mengubahnya jadi bentuk mekanisme aman –menjadi dingin-. Tapi tentu diri yang sekarang tidak mengizinkannya. Sesuatu yang ditekan kemudian merembet pelan-pelan menjadi kegelisahan.
Perbincangan kala itu memunculkan lagi dari kuburan aku yang selalu dan akan selalu siap mengejar mimpi-mimpi sendiri. Dalam kebebasan yang aku buat sendiri dalam sebuah hubungan yang hanya ada aku, hatiku, dan ke’suka-suka’anku tanpa harus bekompromi engan apapun juga. Mengejar apa yang aku inginkan dan aku yakin aku mampu dapatkan. Aku piker aku yang seperti ini sudah lama tak ada lagi. Setidaknya sejak kemunculannya terakhir sebagai penyelamat dari lubang perpisahan kemarin. Aku semain menyadari bahwa ternyata aku memang hidup dalam duniaku yang serba tidak aman. Perasaan tidak aman yang tinggi itu membuatku kesulitan mencintai. Bagaimana bila ia ternyata tidak menyintaiku sebesar aku menyintainya? Bagaimana bila aku nanti harus kehilangan? Seolah aku tidak akan dicintai sebagaimana adanya. Akan selalu ada persayaratan. Atau kalau tidak cicilan berbunga yang harus dibayar di belakang. Dan bagaimana dengan komitmen jangka jauh itu. Pembicaraan kemarin seperti menyadarkan dari amnesia, bahwa seburuk apapun keadaannya nanti, bila telah sampai aku pada ketidakmungkinan, aku tidak akan terpuruk. Karena pastinya aku selalu dapat bangkit berdiri lalu berjalan meski sendiri. There is still another dream to catch. Life to lives with. And if there is no one loves me more than I do, so why should I regret. I have mine (and God also) with unconditional love for myself. That was all that I confuse about my life, future, marriage and so on. Is there somebody whose truly, madly, deeply loves me even I am not (yet) love him back properly? Bukankah cinta harusnya setia,tulus, sabar menenti? Dan bila ia tidak diperjuangkan bukankah memang berarti bukan untukku. So could I surrender? Is it safe enough for me?
About my feeling? I am happy enough with him. I thought he loves me, so I love him also. And that enough for me. Enough for him too. It is not such a fairy tale. So maybe we will not live happily ever after but we will be happy. As whatever it is. Because life is such a dark comedy, or maybe tragedy. All of that I believe we will be happy. Supposed to be like that.
Tapi jadi ingat lagunya Iwan fals ‘KASACIMA’;
“….senyumlah engkau kekasih, problema jadi tak perih
Kasihku kasih terkasih, sayangku sayang tersayang, manisku manis termanis
hidup ini indah, berdua semua mudah
yakinlah melangkah, jangan lagi gelisah…”
confuse still there, but that’s okay. Just like faith we must fight for that. Isnt it?