Feed on
Posts
comments

Akhirnya lulus juga. Tanpa selendang norak noring nong dan predikat lulus terbaik fakultas yang aku impikan. Cukup dengan lulusan termuda dan penghargaan bidang pengembangan pers mahasiswa tingkat fakultas dan dibacakan namanya tanpa predikat di seantero ge es pe selama 10 detik, salaman tersenyum, jepret, tampak samping, pipi semua. Dberi ucapan “selamat ya” oleh dekan psikologi anyar yang ganteng. Ho5. Berfoto bersama orang tua di mimbar ge es pe.
Bertemu teman dapat bunga. Ke fakultas, bertemu kekasih yang menyamar jadi tukang bunga diantara segerombolan kawan. Well, bagian dari scenario yang telah dirancang untuk mengaburkan status kami. It’s complicated relationship. My G-day without PW. Hemmm.
What can I say?
Berfoto, dipanggil namanya, berdiri, maju, salaman, tersenyum, berfoto, berfoto, dan berfoto. Hujan. Ke wisma kagama. Berfoto di Fresco. Mengantri. Ke rumah bude. Ada seremonial perayaan. Doa dan harapan dipanjatkan. Pertanyaan terus menerus diajukan.
“apa rencanamu selanjutnya?”Thats my G-day ends. I am bachelorette. So?
Jadi, begitulah hari wisuda gue berjalan dan berakhir. Ga seru-seru amat. Tapi hari persiapannya lebih seru. Terutama karena diriku diambang ragu, diayun bimbang. Jauh dari lubuk hati terdalam aku ingin menafikkan seremonial yang norak noring nong dan ribet. Terutama karena habis wisuda adalah masa uncertainty bagiq.
Jobless. Seeking for a job. Makes me got nausea. Ego gue yang segede gaban tertohok bow… bicara soal rencana jelas gue punya rencana dan mimpi. aku ga mau mencoba-coba bidang yang tidak aku inginkan. Working as a part of my life. Bekerja dengan penuh cinta. Halah-halah-halah.
So, aku mau dapat kerja yang really-really I want. Being social worker. No corporation. Stubborn mode on. Komprominya, pun bekerja di korporasi ambil bagian CSR nya. Kalo bekerja untuk pemerintah ambil BUMN. Bukan PNS. Kerja di KPK. Atau media. Do the right things as my obsession. That the life lesson learn point that I get till now. I think I could be happy by doing that. Happiness. Ultimate being.
Jadi persiapan G-daynya agaknya menjadi hari-hari yang aneh. Antara menganggap penting sekaligus masa bodoh. Antara sukacita dan kecewa karena ga eksis (ga cumlaude gituloh!!!!!) jadi gimana ya… sebenarnya orang tua yang baik hati tidak memaksakan apapun selain kewajaran pada hari H. tidak berbuat yang macam-macam. Tapi emosi jiwa menuntut.
So, this is what I do. Pulang ke semarang, ibu menawarkan paket belanja persiapan wisuda. Setelah sempat berdebat karena pingin pake kaos oblong di hari wisuda, akhirnya aku mengalah, berganti tema; GOTHIC sebagai wujud berkabung atas wafatnya status kemahaiswaan sekaligus kegagalan cum laude (0,01 lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!). setelah proses eyel-eyelan, meluncurlah pasangan ibu dan anak ke tempat belanja favorrit ibu kota jawa tengah.
Singkat cerita setelah sempat berdebat lagi karena harga kebaya yang mahal dan pengen yang sederhana-sederhana aja, pake kemeja hitam misalnya, akhirnya aku tidak dapat menolak begitu berjumpa dengan kebaya hitam berukuran S yang ngepas sekali di badanku ( I am sexy!), dengan fayet yang ga terlaku glamerolus… berlengan panjang dan ada tutupan lehernya (well, its so me!!!!). itu setelah seharian berkeliling dari toko ke toko… pulang menjelang maghrib. Ibu mendesak pake high heels. Karena tadi ga jadi beli high heels, dia suruh aku pake high heelsnya. Well, alas kaki bagi gue itu yang penting kenyamanan. Dan high heels itu siksaan.akhirnya aku berhasil merayu membeli sepatu triset ijo pupus ceper dan sandal hitam bucheri ceper yang sangat simple. Well, karena kebahagiaan itu akhirnya aku mengiyakan hari wisuda dengan high heels.
Terus, ayahpun berpesan; “bapak ga mau kejadian kaya di bandara terulang lagi, jadi, dia boleh datang tidak sebagai orang khusus”. Well, itu berarti tanpa pendamping wisuda. Sebenarnya kita ngebayangin si blup bakalan jadi kameraman iseng yang mengabadikan hari wisuda gue mulai dari gue dandan sampai wisuda selesai. Interact like family. Hmmmph.
Only dream. T.T.
baiklah, demi stabilitas situasi dan keamanan hubungan kami, ego dan keinginan yang terpendam untuk sementara dipadamkan. Yah, kan bisa foto duluan berdua pake toga di studio. Ha minus tujuh aku habiskan bersama trio kwek2; kakiyam dan dita. Aku dan kaki yam melakukan hal-hal kewaiban calon wisudawan bersama dan melibatkan dita untuk mendorongnya segera menyelsaikan skripshitnya. Like a peer group support tapi lebih banyak seneng2nya, yang nonton pilemlah, nonton pameran kemana-kemana, jalan-jalan kemana-kemana, dan kara-o-ke.
Have fun everyday.
Aku sudah merencanakan kegotikan sebagai tema wisudaku kali ini. Maka untuk membuatnya menjadi lebih independence day dan heroic, aku menolak ke salon, dan menyanggul rambut. Untuk melancarkan misi itu, googling pun dilakukan antara lain dengan kata kunci “langkah-langkah rias wajah” dan “menata rambut ikal”. Untuk meyakinkan aku konsultasi juga dengan ibu we di kota ye. Sarannya cukup membantu dan membuatku tenang. Lantas di kosan aku pun berkonsutasi dengan T-Rex, dan dia mengajariku berdandan;
1.Bersihkan wajah
2.Oleskan pelembab secara merata pada seluruh permukaan wajah dan leher
3.Tepuk-tepuk sebentar, diamkan hingga mengering
4.Gunakan eyeliner dengan seksama, kurangi kedipan mata ketika menggunakan eyeliner.Kalau anda tahan kedip, mengunakan mascara sangat dianjurkan untuk membuat bulu mata makin menyala laiknya mata kucing. Tapi jika anda orang yang sangat spontan berkedip, sebaiknya mempertimbangkan lagi ide ini jika tidak ingin punya tato sinar matahari di bawah mata
5. Taburi eye shadow secukupnya untuk mendapatkan kesan smoked eye gunakanlah warna-warna gelap. Tambahkan smoke cigarette jika perlu.
6.Bedak-an yang rata dengan bedak wajah, bukan bedak tabur apalagi bedak gatal
7.Gunakan lipstick sesuai seleramu.
Dalam waktu singkat aku pun menjelma jadi burung hantu jadi-jadian. Tapi karena T Rex bilang aku cantik maka jadilah aku burung hantu jadi-jadian yang cantik, lebih cantik dari siluman ular putih.
Setelah menguasai ilmu merias wajah. Aku pun harus mencari akal agar keliatan gotik tanpa harus pake lipstick item. Pasti ga boleh sama ibu. Nail coloring jadi pilihan. Bersama ditung dan motor merahnya di malam minggu kitapun meluncur ke toko-toko muslimah terdekat; membeli pacar hitam. Sayangnya, setelah berkeliling di beberapa toko, si pacar hitam yang dmaksud lagi habis. Yah mungkin pamor yang item2 lagi naik. Thanks to OBAMA. Kitapun membeli henna hitam untuk rajah tangan. Tak sabar ingin segera sampai ke kosan untuk merajah kuku. Dan ditung dengan sabarnya merajah kuku-kukuku. Meskipun tiap 1 menit aku minta ditambah hennanya gara-gara kebanyakan tingkah dan henanya jdi belepotan kemana-mana. Kamar T Rex pun menjadi saksi bisu perajahan kukuku dan tangan dieta yang berakhir tragis.
Semalaman aku menunggu henna di kuku tangan dan kakiku mongering. Tidur kayak zombie. Dan terbangun dengan penuh harapan hennanya udah kering dan hasilnya bagus.
Ternyata hasilnya lebih parah daripada kuku yang diwarnain pake spidol. T.T. dalam kebimbangan minggu pagi yang cerah, akupun segera berlari ke toko muslimah terdekat. Dipandangi dengan tatapan aneh, membeli 2 botol pacar hitam local. Hrangnya Cuma 3 ribu buat 2 botol. Ke tempat ibu we untuk mendapatkan pertolongan darurat untuk si kuku. Setelah insiden memuka botol tutup pacar …(tutp botolnya disegel seng tipis yang susah dibuka).
Ibu we pun mencoba menyelaatkan kukuku. Aku hampir percaya bahwa pacar hitam ini tidak lain tidak bukan adalah cat air item. Emang si cepet kering, tapi setelah diliat hasilnya; bener2 kaya kuku yang diwarnain ga niat pake cat air… huh u hu… akhirnya kita beli nail polish, alias kuteks di mal terdekat.. usaha penyelamatan rupa kuku akhirnya dimulai lagi; dengan hasil yang tidak cukup memuaskan. Meskipun usaha ibu we benar-benar uah maksimal.
Menggerutu di kosan, dikunjungi kaki yam dan dieta. Kak iyam membuatku ingin mengamputasi kuku gara-gara bilang kukuku kayak ketumpahan semen… heu heu…usaha penyelamatan kuku untuk sementara gagal dilakukan.
Esoknya mengikui acara gelada-geladi dige es pe, yang memberikan materi tu si bapak republic mimpi yang jadi penasehat presiden. Duh, aku lupa sapa namanya, alumnus fisipol, dia bikin esai yang bagus utamanya soal nasionalisme dan ideology, tapi dia tiak menjawab pertanyaan besarnya; so, whats gonna do next? Hemm, begitulah. Part yang palingseru dari gelada gelada ini adalah bagian nyanyi2nya. He2. Ditelpun fakultas, pembekalan fakultas. Yang ngasi adalah mba2cantik. Lupa jug ague namanya. Yah pokonya dia sempat kerja di UNICEF dan ASTRA (teteup).
Senangnya adalah dia kasi bagian social worker juga. Jadi membuatku optimis. Pulang dari acara itu menyiapkan penginapan buat ayah-bunda. Nunggu degan cemas, abisnya ga dateng2. Selama menunggu, untung si ditung sayang dating menemani, kamipun seoakat pergi membeli peralatan menjadi burung hantu jadi-jadian (hairspray) dan alat penyelamat kuku (aseton). Dalam wkatu sekejap, dia menyelamatkan tampilan kukuku. He2. Okay. Beres sudah masalah kuku yang jadi masalah sekarang adalah rambut. Mo gue apain ni rambut.
Malemnya jalan2 sama bapak ke b21. Ngeliat markas gue itu, bapak Cuma bisa bilang; “jorok”. Itu aja bapak ga masuk kamar mandinya. Kalo bapak masuk beliau pasti gak bakal ngizinin aku berkecimpung di rumah tersebut. He2. Hari berikutnya adalah keganjilan. Setelah berdandan dan sempat setress gara-gara rambutku ga tau mau diapain. Akhirnya aku putuskan untuk memilin biasa aja dan mengurai rambut gue tersebut. Berdebat subuh-subuh sama ibu.
Wah, payah abis, bundaku tersebut tidak dapat diandalkan dalam hal rias merias. Untungnya basically gue dah cantik ya… jadinya separah apapun dandanan gue, tetep manis gitu deh…ho5… Cuma lipstick gue yang kurang pas sama topi toga yang melengse2 terus… huffh…
Secara gue on time, sebelum jam 6 gue dah berangkat menuju gee s pe. By foot tentunya, secara nginepnya di wisma kagama. Waktu itu gue make high heels ya… teus di tengah jalan… si abang tukang becak menawarkan jasa mengantarkan sampai gee s pe… dengan pedenya menolak… dan 5 langkah dari tukang becak tersebut, sandal high heels ibu itu copot… benar2 ampuh ajian si tukang becak ini, pulang ke wisma kagama dengan nyeker ria, disorakin sama si abang tukang becak… duh malunya… akhirnya gue dengan sukses menggunakan sandal ceper bucheri item dalam prosesi wisuda gue… hampir aja pake sandal jepit. Asik juga kali ya, pake sandal jepit. Wakakkakak.
yah… demikianlah hari wisuda gue berakhir dengan doa-doa; semoga gue cepet dapet kerja11 hari dari wisuda gue, doaku terkabul.

Pagi yang indah. Telepon berdering. Gue masih bobo manis dalam kamar yang berantakan. Setengah sadar gue baca id tertera di atas hape gue yang waktu itu masih bener (sekarang LCDnya sering mati2 sendiri), ‘cln kntr’ demikian dengan pedenya aku menamakan nomor telepon yang masuk itu. Aku angkat.
Dan betapa terkejutnya diriku aku diminta kesana sekarang juga. Segeralah aku meluncur ke concat. Dunia seolah membantuku ketika itu. Tiba2 datang si Galih, ketemu di jalan, dan dia bersedia mengantarku ke ASB… sampailah aku disana dan ditawarilah aku kontrak kerja. Senangnya!!!!! Padahal aku dah dapat notification via mail kalau aku ga lolos interview. Ternyata yang di atasku mengundurkan diri. Si mbak yaya itu.
Jadi aku bisa dapat kerjaan itu. Hmmm.. so kontrak itu per desember gue jalankan dengan offering perpanjangan per januari. Consultant of project officer. Kalau diperpanjang gue bakal jadi project officer buat Arbeitrer Samaritan Bund (ASB) itu.
Pekerjaannya cukup menyenangkan, tiap hari jalan-jalan pake mobil ke mana-mana. He2. Survey and give training. Disaster risk reduction. I learn many things esp sign language karena ranah kerjanya di sekolah inklusi sama SLB. HMMMPPPPh.
Ada banyak hal yang membuatku menghela napas; termasuk guru-guru yang mengabaikan murid dan Cuma mau dapat sertifikasi aja. Tentang penanganan siswa di SLB-SLB desa. Tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Membayangkan menjadi mereka buatku merinding. Damn! Betapa sering gue ngeluh, background psikologi gue ga bisa membantu apapun karena gue dulu jarang belajar tentang itu. Mungkin ke depannya aku perlu banyak membaca tentang ke’istimewa’an mereka tersebut. Dan lebih banyak bersyukur tentunya.

FIGHT!!!!!Tentang kekasih…Aku gak mengerti kenapa sih harus ada perang, harus ada perang kepentingan, harus ada sp*****, harus ada aktivis yang dibunuh, harus ada Negara yang resek ingin memanfaatkan Negara lain untuk kepentingannya aja, harus ada manipulasi, kenapa harus ada i*******, kenapa harus ada b**** i******** dan kenapa dia pingin banget jadi ***** N****?Well, kenapa harus dia…?

Bookmark and Share

“Ayo ke Jakarta, yuk, rame-rame, liat pemeran pendidikan Eropa,” ucapku semangat. “kan asyik, rame”, rengekku manja. “naek ekonomi biar murah,”rayuan maut aku lancarkan. Singkat cerita aku berhasil memperdaya upik abu dan tiwi wi wi untuk ikut ke Jakarta naek KA Progo, kereta api ekonomi semi bisnis dengan AC alami. Sementara Ino-Mita naek kereta api bisnis murni dengan AC kipas angin. Di Jatinegara kita bertemu. Setelah menunggu kurang lebih 1,5 jam yang kita habiskan dengan ngomentarin foto cowok ganteng sok cool dengan macan di sebelah kanan yang menoleh ke kanan dan elang di sebelah kiri yang menoleh kiri. “Pria punya selera”. Demikian judul poto itu. Akhirnya kereta bisnis gejes2 datang juga. Cabut ke tempat ino dengan mengendarai burung biru. Berasa orang kaya aja, naik taksi, coy!

Sampai ke tempat ino, kakaknya yang hamil mau melahirkan. Alhasil seharian di rumah ino, menghabiskan persediaan makanannya. Ho5. Ajaibnya, sorenya kakaknya udah pulang lagi dan membawa bayi. Wow! Benar-benar persalinan yang ajaib. Membuatku optimis dapat melalui hal tersebut dengan selamat! Semangat, fa! (apa sih?). bayinya lelaki. Kakak si bayi, cewek, namanya sofi, lucu sekali, berhasil kudekati tanpa tangisan dan perlawanan yang berarti. Senangnya! Akhirnya, ga jadi baby enemies lagi. O, ya satu lagi toko figuran, muti, adiknya ino, anak es em pe yang lebih bongsor dari gue T.T. thanks ya mut udah nemenin ke warnet terdekat, serta tante yang dengan sangat baik hati rela rumahnya kita recokin. Thanks ya tante. (kok kayak bikin kata pengantar skripsi gini? LOL)

Okey, perjalanan para gadis gadungan ibukota dimulai pada hari sabtu 1 november. Setelah puas naek angkot dari cibubur lewat ciracas, cijantung, dan ci ci yang lain, terasuk juga lewat tempat pembuangan mayat korban mutilasi, kita turun di pasar rebo (catatan buat dinas perkotaan kalo mau mendirikan pasar lagi namain pasar selasa aja pak, kata ino, gadis gadungan ibukota yang paling professional, pasar selasa belum ada). Kita nek buswae…sampai puas gelantungan..yah, lumayanlah ya exercise mengencangkan otot lengan sekaligus melatih keseimbangan kordinasi gerak tubuh, kegesitan, dan kecekatan. Setelah sempat terpisah dengan tragis oleh tembok buswae. Kita bertemu dengan selamat di shelter berikutnya. Dan meneruskan perjalanan. Yah, setelah sempat berpoto bersama di beberapa shelter buwae, rombongan para gadis berhasil mencapai balai kartini –tempat berlangsungnya pameran- dengan selamat. Ruangan yang besar dan luas, yang memungkinkan anda tersesat di dalamnya. Apalagi makhluk mungil nan bodoh peta seperti saia, yeah. Stan dibagi per Negara. Kurang lebih ada 90 insttusi pendidikan eropa dengan Negara peserta tentunya Negara-negara yang tergabung dalam uni eropa. Bertemu dengan beberapa kolega, seperti Hikmah, Tiara, mbak Dian, en Diendut –teman kakaen-. Melakukan ritual; ngegosip. Ho5. Singkat cerita, entahlah dengan sekawanan gadis yang lain, ceritanya kita misah, dan bertemu kembali untuk makan siang serta mengantri buat liat presetasi Erasmus mundus (beasiswa yang gue setengah mampus mengharapkannya). Yah, dan rasa laparlah yang mempertemukan kita di stan makanan yang dibuat langsug oleh seorang chef –namanya bukan puji, emangnya syeh puji-. Mata langsung melotot liat daftar harga; es trh harganya 10 ribu. Aje gile Jakarta raya…10 kali lipat harga es teh Yogya, teh impor kali ya?

Presentasi Erasmus mundus. Gitu-gitu doang.singkat cerita;  ceklah alamat web site. Yah, kalo Cuma disuruh akses alamat websitenya mah, gue gak usah jadi gembel Jakarta! Uh uh. Tapi gak papa. Itung2 refreshing liat bule-bule dan co2 jakarta yang kece-kece. Yah, seenggaknya mengamati perilaku homo jakartensis merupakan ksenangan tersendiri buat gue. So, beasisswa Erasmus mundus ya, sejauh ini beasiswa yang gue kejar adalah NOHA, humanitarian action, adanya di Groningen, Sweden, dan 2 negara lagi gue lupa. Langkah terdekat adalah mendownload aplikasi EM, NOHA, dan HSP Huygens,  melihat list yang dibutuhkan, dan belajar buat TOEFL; 580 ITPdi Surabaya. Prepare for that lah selama menunggu 19 november, hari wisuda gue.

Setelah megikuti presentasi itu, kita misah. Upik ketemu temennya, terus the rest of gerombolan gadis mengantarkan mita yang udah kebelet ngerjain proposal skripsi. Kitapun mengantarkan mita ke gambir. Setelah terbiasa bergelantungan di atas buswae, para gadis dengan mantap memutuskan menjadi banci monas. “mit, foto, gue belum pernah poto dengan latar belakang monas,” pinta gue dengan noraknya.  Alhasil, para gadis pun bergiliran foto dengan latar belakang monas, sembari diiatin supir bajaj gambir. Sampai di depan pagar Monas, situasi mulai menggila. Ceritanya, para gadis dikejar fans-nya yang mau berfoto bersama. Aduh duh capek deh. Mana fans-nya bandel, maunya nampang aja, padahal udah gue bilang lo; “mas-mas, ini ni buat poto album single terbaru kita, mas, jangan ikutan yah, entar barter sama tanda tangan kita deh…” kita pun kemudian dengan suka rela berfoto bersama fans kita yang pendiam dan penyuka kacamata kuda, -si kuda ondel-ondel-.

Stelah melalui sesi pemotretan kita kemudian melanjutkan dengan sesi wisata kuliner. Tempat tujuan kita adalah Ragusa. PAra gadis memanjakan lidah dengan ice cream italia yang dijual orang cina. Hidup globalisasi! Dasar para gadis yang hidup di dunia ketiga, ternyata hidup para gadis selama ini ditopang oleh pinjaman lunak antar sesama, hingga tiba saatnya membayar bill, para gadis bingung menghitung utang  dan menarik pinjaman. Tingkah para gadis mengundang senyum mas-mas penjual otak-otak, yang sayangnya enggan member diskon meski para gadis telah memberikan senyumnya yang paling manis.

Di atas buswae para gadis melepas kepergian mita kembali ke bumi Yogyakarta hadiningrat dengan kereta api taksaka. Tinggallah gerombolan gadis bertiga, diiringi Jakarta yang mulai gelap tapi tetap lincah, petualangan dilanjutkan di atas buswae yang penuh orang berjubel, lagi-lagi jadi monyet, gelantungan gak jelas. Emang dasar kota yang aneh, orang-orangnya hobi banget gelantungan. Yang paling gue kenang hari t adalah betapa lelahnya menjadi homo jakartensis, padahal hanya untuk ukuran bersenang-senang keliling kota harus dihabiskan dengan cukup banyak keringat. Yeah, mungkin aku yang terlalu manja dan kolokan. Kitapun sampai kembali di cibubur hampir pukul 9 malam, setelah menempuh perjalanan darat 3 jam, kayak ygy-smg. Setelahnya aku eperti biasa, langsung lelap tanpa mandi. Tidak menyangka hari berikutnya akan kami lalui dengan lebih absurd.

Bookmark and Share

Hari kedua itu hari minggu, diwarnai dengan kebingungan bagaimana rencana selanjutnya. Sempat gerombolan terpecah, terbentuk kembali dan akhirnya mecah lagi. Rencana hari itu; aku berangkat berdua sama teaway; tujuan setiabudi-ketemu temanku si swesti yang udah kerja jadi akuntan public dengan gaji jutaan, nitip tas, pergi lagi ke ehef, ke setiabudi ambil tas, dan langsung ke senen, diasana upik sudah menunggu dengan tiket di tangan. Baiklah, peta urutan bus juga sudah di tangan.

Awlanya lancar, sangat lancar. kita naik T16 terus ganti S15A. sempat dapat koring seribu pula dari harga standar. di tengah jalan, ternyata lewat rumahnya kakaknya tiwi. Kitapun singgah sebentar di rumah kakaknya tiwi yang cukup manis dan akan segera menikah dengan calon kakak ipar tiwi. Begitulah kira-kira. Pulang dengan uang tambahan di tangan tiwi. Aku pun optimis akan dapat traktiran. Singkatnya kita naek angkot dan ganti buswae. Terus di atas buswae disapa seorang mbak2 yang mau ke European higher education fair (ehef) juga, memberikan info yang diperlukan. Tak berapa lama, tujuan setiabudi terlewatkan stelah tidak berhasil keluar dari bus wae, telat nyadar gara-gara ditelon sama mita –the other gadis yang udah di yogya ketika itu-. Sementara di halte berikutnya, karena gak peka, tiba-tiba buswae  udah berhenti, tanpa bilang “pemberhentian berikutnya…”, teaway –yang kebetulan dekat dengan pintu- udah turun duluan sementara aku masih bengong, berusaha turun, tapi terlambat. Teaway turun di shelter latuharhari. Perpisahan itu diiringi oleh luapan ekspresi ‘hore’ dari mulutku, sementara ekspresi wajahku datar saja. Bear-benar kontras. Kaya ekspresi si sindentosca yang nyanyiin lagu “kepompong itu”. Dari arah seberang,  teaway nampak berdiri mematung di pintu kaca busway yang menutup. Benar2 adegan yang dramatis. Pintu busway itu telah memisahkan kami! Seperti tembok berlin transparan. (berlebihan mode on)

Aku turun di shelter berikutnya; halimun. Tak menyangka itulah awal dari ‘halimun’ yang sesungguhnya. Tak sempat bertanya, dan sepinya shelter membuatku melangkah pasti naik bus dengan arah beralawanan, snpat terbaca tujuan dari busway itu; matraman-pulogadung. Dasar spesialis nyasar. Akupun dengan sukses nyungsep sampai manggarai. Setelah mendapat pentunjuk dari seorang mbak-mbak penumpang (bodohnya kok aku nggak nanya sama mas2 buswaenya aja ya!). dan aku melihat sepasang mata menatapku, dialah seorang mas2 ganteng yang menjadi salah satu saksi perpisahanku dengan teaway di busway pertama. Aduh, tobat, malunya!!!! saat itu aku masih cukup tenang dan sok cuek, telepon dari teaway aku sahuti dengan dingin; “tunggu di situ, aku kesitu”.

Turun di manggarai akupun menanti bus menuju dukuh atas, seperti yang diceritakan mbaknya. Tanpa tahu bahwa dukuh atas ada 2. Sementara itu aku mendapat kabar dari teaway yang sedari tadi menunggu di pemberhentian setiabudi utara aini, bahwa shelter setiabudi itu ada 2. Saat itulah aku mulai panic. In the middle of no where, akupun bertanya untuk menuju setiabudi pada mbak jaga buswae. Arah blok m, demikian ujarnya singkat, kayak gue tahu aja arah blok em mana. Dan gue dengan tatapan bingung menatap mbaknya, meminta penjelasan lebih lanjut, tapi datanglah si buswae, gue terdorong arus massa, mbaknya bilang itu nanti ganti ganti ke arah blok em di dukuh atas2. Sampai di dukuh atas 2, gue naek tangga panjangnya tiada terkira sesuai petunjuk, “blok m anak panah item ke atas”. nunggu buswae menuju blok m. dan setibanya si buswae naeklah gue, muter2lah sampai bunderan HI, PI, dan sebagainya itu. Dalam kepanikan dan kenyasaran gue, sempat gue ditanyain sama mbak-mbak, “mbak mau ke ehef?”, kata gue; “udah kemaren mbak”, terus kita basa basi, sampai kemudian dia Tanya; “jauh-jauh dari yogya Cuma mau ikutan pameran?”. Guepun tersenyum dengan anggunnya dan segera mengesemes ino, apakah gue berada di jalan yang benar, dan dia bilang itu udah terlalu jauh, dan guepun bertanya-tanya..”perasaaan gue dah mencoba mengikuti petunjuk orang-orang”, guepun bertanya pada mas buswae, gue disuruh turun di monas, ambil jalur yang sebaliknya… dalam kebingungan gue mengikuti sarannya.

Turun di shelter monas, guepun naik buswae entah jurusan apa, yang penting kata masnya setiabudi aja. Gue turun di tempat yang diancer-ancerin temen gue. Da vinci, dan chase plaza, berhasil bertemu dia, ngerampok 2 botol susu cokelat, ngabisin taronya dan kitapun tancap ke ehef di kuningan timur. Dan the fuckin shitnya adalah; kost-annya itu deket sama shelter dukuh atas2. Jeng2! Tau gitu gue ga usah jauh2 nyasar sampai mana2… T.T,

swesti, gadis itu, sekarang udah berjilbab. Bener kata dia, everybody’s changing. Tapi gue berasa diam di tempat. Aku ingat dia, lebih tepatnya kita; aku, swesti, dan yoa serta pelajaran agama. We are the rebels. Ga secara terang-terangan; bagi kita agama itu nilai, maksudku angka raport. So, nilai kita normal ya, 8-9 gitu deh.. tapi jangan Tanya pandangan kita soal agama. Don’t mention it, lets talk about brad pitt, aniwei! So, swesti, cewe beruntung nan berotak cerdas itu berhasil menjadi lulusan termuda Agustus kemaren, cum laude pula, IPK 3,76, penyandang beasiswa Pertamina, dan udah diterima di Ernst&Young dengan gaji bersih 3,6 juta sebelum wisuda. Iapun berkisah, jika ada lembur dan rame klien, 7 juta sebulan mah gampang. Tapi, dia tetap swest sederhana yang gue kenal; “aku masih pengen masuk be pe ka aja daripada kerja gak jelas kayak gini, kerja apaan sampai jam 2 malam, kadang makan gaji buta”. Well, dia tetep temen gue yang gue banggain.

kitapun pergi ke kuningan timur. Teaway udah nyungsep di pasar festival. Dan gue ke pameran lagi. Sampai disana, ternyata udah abis2an. No freestuff anymore. Tasnya abis. Terus tinggal fotokopian selebarannya. T.T. Mereka emang penjual ulung, kalo kata temen gue; welcome to the new world, semuanya bias diual sekarang, semuanya, pendidikan juga, lintas batas Negara, setelah itu lo diajarin pake logika sana buat nanganin masalah negerimu.. selamat selamat. Itu membuat gue mikir juga. Kata gue emang kita idup dalam jaring kepentingan, apa yang bisa kamu harapkan? Selama merka masih ngasi beasiswa, selama gue masih mampu untuk ngejar beasiswa itu, belajar sampe bego dan cukup punya kapasitas untuk melakukan sesuatu, dan tidak lupa melakukan banyak hal kecil untuk mengubah keadaan, men. Apa yang lo harapkan? Yesus turun ke dunia, menyelamatkan umatnya? Ato lahir titisan nabi Muhammad yang membawa langsung umatnya menuju kerajaan surga? Ato obama jadi nabi selanjutnya? Well, kalo itu emang terjadi, aku harap mereka cukup bijak untuk tidak egois, menyelamatkan umatnya masing2aja.

So, akhirnya aku ikut presentasi DiKTI, bapaknya yang presentasi udah sepuh, mungkin namanya John, tentengannya macintosh, gayanya kaya orang jepang, kulita dan bentuk luarnya juga kayak orang jepang. Selintas gue kira, DIKITI udah dikuasai Jepang, and I want to say thanks again to globalization. Tapi ternyata dia orang Indonesia, yang lucu. Well, tak harus berburuk sangka dulu tentang institus Indonesia, terutama departemen penidikan, setidaknya ada effort untuk meningkatkan kulitas pendidikan, kalo orang-orangnya yang kecipratan kebaikan departemen tidak egois mengenggam keuntungan untuk diri mereka sendiri, dan punya keinginan kuat untuk membagi apa yang dimilikinya tersebut, entah pengalaman, entah values, entah semangat, apapun itu, tidak untuk kepentingan gengsi dan memperpanjang nama, aku pikir dampaknya akan dahsyat. Impossible is nothing katanya adidas, dan gue percaya itu, sepercaya gue pada keinginan kuat, harapan, dan cinta pada hidup. Intinya adalah, pemerintah menganggarkan ratusan milyar untuk nyekolahin 800 dosen (di tahun 2009) kemana aja yang mereka mau, selama 2 tahun maksimal. Serta 200 dosen untuk program sandwich. Indonesia emang keren banget. Sekeren UGM. Tapi tentunya kalah keren ketimbang gue. Halah…

Pukul 16.45 gue cabut dari balai kartini yang kian sepi. Like I said before, no more other free stuff. Wes bali wae. Ditunggu teaway di pasar festival. Dan yang nggak gue prediksikan adalah buswae yang penuh banget. Berkali-kali seperti itu, udah hampir jam 6 dan gue masih jedondot di shelter busway Kuningan timur, terbengong-bengong melihat tumpukan makhluk hidup bernama manusia di dalam buswae yang udah berjubelan ga karuan. Terpikir; aku harus nekat, bisa-bisa, para gadis ketinggalan kereta ke yogya….jam 9 malam berangkat dari senen (liat kisah tragis di Jakarta, 2 tahun yang lalu saat aku ketinggalan kereta menuju yogya dan terdampar di kereta api tawangjaya menuju semarang, archieve sept 2006). Dan akupun nekat. Niatan nekat pertama kandas, gara-gara diduluin mas2 yang dengan gilanya masih mencoba masuk saat buswae setegah berjalan… GILA! Niatan kedua berjalan hampir kandas, setelah gue neat masuk, tasku yang segede bagan dengan forsifa didalamnya kejepit pintu buswae. Aku segera mengambil jalan nyelempit kea rah belakang. Bergelantungan sambil minta maaf karena  kayaknya aku nginjek banyak kaki manusia deh. Sampai di bagian belakang, aku ga dapat tempat gelantungan, ngegusur feet space seorang mas-mas yang lagi sama pacarnya.. aku hampir yakin kalo ga dapat menjaga keseimbanganku aku baklan jatoh tepat dipangkuan mas-mas yang nggak ganteng ini, terus gue disiksa langsung sama mbak-mbaknya… benar-benar mengerikan. Ternyata imajinasiku nggak kejadian… dengan wajah puat, dan mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah SWT, akhirnya aku berhasil turun di shelter sumantri dengan keadaan hidup. Menghubungi teaway dan tidak dibalas. Aku benar-benar hampir putus asa. Diiringi hujan rintik2, gue ngebayangin; teaway udah ke senen, sementara pulsa gue abis dan ga bisa ngehubungin siapa2, dan gue gak tau gmana caranya dari sumantri ke senen. Duit ampir abis. Sementara gue lemeees banget. Mata berkunang-kunang. Dan lagu “Yogyakarta”-nya KLa , berkumandang syahdu di lubuk sanubari…. bergantian dengan lagu Ebiet G. Ade, “aku ingin pulang”….. dan ketika teaway membalas, bahwa dia ada di lantai 2, dengan langkah gontai aku naik tangga, begitu sampai dan menjumpai wajahnya, aku tersenyum dan bilang; “aku mau pulang”…

Teaway, gadis manis itu akhirnya nraktir bistik aneh, dengan baked potato, dan es yang bagiku segar banget, diiringi band panda yang nyanyiin lagunya mister big, teaway menatpku sambil senyum2 ga jelas. Benar-benar situasi yang absurd. Kita keluar, rencananya mau cari buku yang dapat menemani perjalanan, tapi ga dapet. Kitapun langsung tancap ke senen, waktu menunjukkan hampir pukul tujuh. Setelah menanyakan pada taway keastian rute, akupun pasrah. Lelah nyasar lebih tepatnya. Dan ternyata, kami tetap nyasar.

Keanehan yang pertama adalah bisa-bisanya aku nggak liat ciriciri Senen yang demikian mencolok. Kita berhharap melihat “senen” di tulisan shelter yang terpampang tanpa tahu bahwaharusnya kta turun di “atrium”. Aku bertukar pandang kea rah teaway, merasa ada seuatu yang aneh. Ternyata itulah pertanda. Kami, lagi-lagi nyasar, gak tanggung-tanggung, sampai Pulo Gadung. Semua orang buswae rebut begitu tahu kita nyasar. Dan sebalnya, adalah pas aku memberanikan diri nanya ke bapak yang disebelah gue, gue malah dimarahin. Makasih ya, pak, bapak menambah kepanikan kami. Untungnya ada ibu-u jawa timur baik hati yang member nasehat dan pentunjuk. Kita turun ngikutin petunjuk si ibu. Dan ternyata pulo gadung menahg keras. Satu tanggapan dari teaway membuat kita dikejar orang-orang yang punya kepentigan terhadap nyasarnya kami. Di tengah kesialan, untungnya kami cukup beruntung,si ibu baik hati menyelamatkan kmi dari perang kepentingan yang mengerikan itu. Kami pun dengan selamat naek T27 menuju Jtinegara dengan pertimbangan waktu dan keamanan. Pukul 9 kurang kami sampai di jatinegara, menurut jadwal pukul 9.10 kereta akan sampai jatinegara. Kami masuk, membeli peron, mengalami sesuatu yang absurd. Dan lagi-lagi… sesuatu yang kurang menyenangkan.

“untuk penumpang kereta api progo, harap menunggu, karena lokomtof baru akan diberangkatkan dari jainegara menuju stasiun senen”

“untuk penumpang kereta api progo, harap menunggu, karena lokomotif baru saja dipasangkan di stasiun senen”

Menurutku itu absurd, sementara aku terima SMS dari ino; “fa, liat gak, kereta apiku lewat nih, kamu udah ketemu tiwi?”. Yeah, ino emang naek taksaka, kali ini kelas kereta api dengan tragis memisahkan kami. Sementara di sudut gembel yang lain aku dan teaway bertemu gadis ibukota gadungan lain di jatineagara, hikmah dan mbak Francy (actually, aku lupa namanya). Dan kitapun ama-sama menunggu PROGO. Kereta api yang akan membawa kami pulang menuju abnormalitas hidup.

Aku dan teaway sama-sama berdoa semoga sekembalinya kami dari Jakarta, akan menghilangkan Post Traumatic BuswaeDisorder (PTBD) yang mendera kami dengan bertubi-tubi. Bagaimanapun, pengalaman dengan buswae cukup membuat kami shock dan considered pengalaman traumatis gitu loh. Hal ini bukan maen-maen pembaca, teaway aja di dalam kereta api PROGO, pas kita lagi ngetem lama banget di Cirebon –nunggu kereta api eksekutip lewat; nasib tragis kelas ekonomi, harus ngalah sama eksekutip lantaran rel terbatas-, menunujukkan tanda-tanda alias sipmtompt PTBD. Dia dengan agresifnya mengambil botol aqua setengah kosong, memukulkannya ke meja dekat jendela, dan menggoyang-goyangkannya bak seorang demonstran (atau supporter sepak bola?) kemudian berteriak-teriak “pulang-pulang-pulang!”. Catatan; it was in the middle of the night loh! It was so obvious kan kalo PTBD harus dicantumkan dalam PPDGJ (Pedoman Penanganan dan Diagnosis Gangguan Jiwa), sebagai salah satu disorder.

hari yang absurd diakhiri dengan tibanya kami di bumi ngayogyakarta hadiningrat. tentunya ditutp dengan lagu india yang jadi soundtrack perjumpaan dengan kekasih, yang sempat diwarnai keributan kecil, biasa; sebal menunggu. heu heu…

pesan moral;

“…check your belonging and step carefully!!!!

thank you”

tidak mudah memang menjadi homo jakartensis maka sebagai manusia yang saling bertenggang rasa, sudah sebaiknyalah kita menerapkan perilaku tepo seliro, “monggo mas… ndisik wae…”

yogya… i am in lop lah pokokeeeeee

Bookmark and Share

Dalam setiap perbuatan baik, (meskipun kecil) ada maknanya.Mungkin dunia tak akan berubah drastis (dengan perbuatan-perbuatan kecil itu). Tapi, dunia kan memang tidak pernah berubah drastis,”

Gunawan Muhammad

Sepakat. Perjalanan ke Jakarta memberiku banyak hal. Bukan Cuma rumitnya kota itu (yang membuatku dan Tiwi terserang PTBD –Post traumatic busway disorder, lihat erita sebelumnya), tetapi juga kompleksitasnya akan banyak hal. Otak bodohku tidak sanggup mencernanya. Apalagi ditambah dengan antisocial akut serta keegoisan tigkat tinggi yang kualami. Ini tentang ironi kehidupan. Biasa saja bagi kebanyakan orang dan mungkin dimaklumi sebagi hal yang, “well, not surprise”, or “welcome to the jungle, dude!” tapi, bagiku rasanya tetap seperti naik bumb bumb car dan kamu menabrak car lawan.

Anak kecil berbaju merah itu memiliki rambut yang indah. Ikal. Dikuncir ekor kuda. Warnanya tak legam hitam, tapi merah kecokletan, warna kreasi mentari untuk kepala mungilnya. Usianya tak lebih dari 4 tahun, kukira. Angkotan kijang biru kami dengan nomor rute perjalanan T15 sedang berhenti di lampu merah ketika ia masuk dengan mata sayu seraya menyerahkan amplop putih kecil pada setiap penumpang. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, seperti menghindari kontak mata. Dari arah luar terdengar suara anak kecil lain berteriak; “Cepetan, udah mau jalan!”, dan tak disangka-sangka, si mungil manis menjawab dengan teriakan kasar dan garang, “Iyaaaaaa!”. Tidak ada nada manja yang biasanya keluar dari bibir mungil anak seusianya, itu ungkapan geram, gusar, dan lelah. Aku terdiam. Mungkin miris. Karena tak mampu memberikan apapun untuknya. Uang? Tentunya akan diambil oleh orang yang tega memperkerjakannya. Aku marah pada diriku sendiri yang Cuma bisa diam dan bengong, bahkan sempatsempatnya tersenyum. Seolah berharap seulas senyum itu dapat menghapus beban harinya yang berat.

Kalau sudah begitu, aku jadi berpikir; buat apa semuanya. Buat apa sekolah tinggi kalau jadi tak mampu berhadapan dengan itu semua. Buat apa jadi sarjana. Apa yang bias kulakukan, selain tersenyum berdoa memberi receh, permen, susu, nasi bungkus. Buat apa cari beasiswa. Sekolah ke luar negeri. Gila rasanya. Berlebihan! Ayo, fa; BERPIKIR!!! Sementara ego dan konsep diri menuntut kamu harus begini begitu,bekerja  di tempat yang menjanjikan dengan bayaran tinggi, sekolah tinggi sampai ke Negara penjajah –mereka yang melahirkan sejarah kemiskinan di negeri ini dan berteriak teriak “make poverty history!”-.

Seperti puisi yang aku baca sama ditong di salah satu terbitan berkala mahasiswa, “perasaanku seperti air laut yang tak asin”, kalau tidak salah begini bunyinya;

“Rasa bingung jika aku pikirkan berubah menjadi rasa sedih

Rasa sedih jika aku pikirkan berubah mejadi rasa marah

Rasa marah jika aku pikirkan menjadi rasa kecewa”

Ya, perasaanku seperti air laut yang tak asin. M e m b I n g u n g k a n.

Pesan moral; tetap semangat, fa. Ayolah, terus berharap, terus menghidupi mimpi. Sekarang, fa, sekarang kamu bukan siapa-siapa, kamu tidak bias beri apa-apa. Itu sekarang, fa. Bukan nanti. Jangan tutup hatimu. Kamu bias lakukan sesuatu. Dan jangan gengsi berikan sesuatu yang kecil. Ayolah, fa. Jangan termakan mimpi gigantis. Untuk yang satu itu jadilah realis. Jangan lupa selipkan syukur pada setiap doamu atas apa yang kamu dapat hari ini.

Bookmark and Share

hemmm

16 oktober nanti aku pendadaran

harapanku semuanya lancar dan baik-baik saja

24 oktober nanti aku berulang tahun

harapanku aku selalu dapat menjadi lebih baik lagi

24 oktober aku berharap bisa yudisium

jadinya, aku bisa wisuda november

setelah itu mencari kerja

sembari mengerjakan utang

ah, payah sekali, beginilah jadi mahasiswa proyek…

kapan aku bisa BERLIBUR?

aku

oh, ya, jurnal balairung itu belum terbit, aku ndak tahu harus berkata apa dan berbuat apa

yeah, aku redaktur pelaksananya

mungkin aku juga terlalu sibuk, sibuk pacaran

alah embuh…

mungkin aku perlu menata hidup.

mulai dari yang benar. mungkin proyek ulang tahun adalah beres-beres kamar.

hemmm.

ayolah, fha, semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

melanjutkan hidup dengan mimpi, dan mungkin juga tragetan-targetan anyar.

memperbaiki hubungan, menjaga diri, berkembang dan terus berkembang jadi lebih baik. belajar. dan melakukan perjalanan.

sampai sekarang belum dapat tiket anyar untuk melanjutkan perjalanan hidup.

ah, yogyakarta, memang benar-benar digdaya hingga buatku jatuh cinta.

aku sedang berada dalam fase ‘bermimpi’nya base jam, which means; ga tau apa yang harus dilakukan.

ah, payah.

membuat jadi be te.

Bookmark and Share

bunuh diri

<OBJECT classid=”clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000″ codebase=”http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,0,0″ WIDTH=”652″ HEIGHT=”556″ id=”bdm2008″ ALIGN=”">
<PARAM NAME=movie VALUE=”http://bdm2008.everybodylovesirene.com/viral/bdm2008.swf”> <PARAM NAME=quality VALUE=high> <PARAM NAME=bgcolor VALUE=#000000> <EMBED src=”http://bdm2008.everybodylovesirene.com/viral/bdm2008.swf” quality=high bgcolor=#000000 WIDTH=”652″ HEIGHT=”556″ NAME=”bdm2008″ ALIGN=”" TYPE=”application/x-shockwave-flash” PLUGINSPAGE=”http://www.macromedia.com/go/getflashplayer”></EMBED> </OBJECT>

Bookmark and Share

Imago Dei

Sebenarnya bagaimana rupa Tuhan?

Hmmm. Aku menyepakati ujaran Reti, yang mungkin ada benarnya juga. Sebenarnya tuhan adalah psikolog behavioris yang handal. Terbukti tuhan sangat getol mengatur laku manusia lewat ancaman, peringatan, dan janji membahagiakan. It is so reward and punishment. Mungkin piker Tuhan itu merupakan cara terbaik mengatur keseluruhan bangsa. Membuat sesuatu menjadi undebatable seperti alqur’an (tidak ada keraguan (atau kewaguan?) daripadanya). Lalu mengisinya dengan kabar gembira dan peringatan. Tiba-tiba tuhan menjelma jadi sosok yang sangat posesif, “awas lo, gak nyembah gue, gue masukkin neraka lo, hayo-hayo!”, “awas lo gak percaya kitab yang udah capek-capek gue turunin ini,” tuhan juga seolah takut banget diduain (awas lo nyekutuin gue), apalagi diduain ama patung, wuah tersinggung banget ego Tuhan nampaknya. (heh, masak gue dilepelin ama patung?????please dong deh, manusia-manusia, awas lo lo pade, udah susah-susah gue ciptain eh malah nyembah patung bukan gue). Neraka, siksa yang keji kemudian menjadi kata kunci yang seolah menjawab kedongkolan tuhan karena buruknya sifat manusia baik terhadapNYa maupun terhadap sesamanya. Kitab yang dibuat tuhan dan dikirimkan lewat kurir khusus kemudian rencananya menjadi petunjuk bagi manusia, semacam buku tuntunan; “1001 cara menyenangkan hati tuhan, diberi kemudahan dalam hidup, dan hidup kekal dalam surgaNya”. Lucu juga, ternyata tuhan sangat dominan dan pengatur ya? Buktinya katanya dia gak mau nerima cara mencintai yang lain. Cara mengingat gue ya itu Cuma satu. Jalan agama yang sahih juga Cuma satu, yang lain nothing. Masuk neraka aja lu. Kan udah gue turunin kitab terakhir, dasar manusia banyak bacot, kalo banyak bacot ntar masuk neraka lo.

Masak sih  tuhan arogan, berpamrih, dominan, egois dan posesif??????

Ketika tuhan memberi kesempatan kita untuk hidup, sebenarnya apa maksudnya, benarkah kita ‘hanya’ diminta untuk menyembah, memuji, beribadah dan mencari ridloNya (yang jelas tertulis guidelinenya dalam alquran), lantas apa benefitnya urip bagi manusia, sebagai individu yang berproses loh ya…

Aduh tuhan, tuhan, iseng sekaligus misterius banget ya Kamu. Pantes banyak orang yang tergila-gila sama kamu, rela mati demi kamu segala, kamu memang benar-benar digdaya (ya iyalah, tuhan gituh!)

Aduh aduh kayaknya gue mesti sedikit positivis memandang wajah tuhan. Gue masih percaya tuhan itu maha baik. Dan karena dia maha baik maka dia gak mungkin menjadi maha jahat pada saat yang bersamaan karena bagi gue tuhan itu ya baek. Tuhan itu serba (tuserba). Serba baik, serba dewasa, serba wais. Gak mungkin ah tuhan sampe berpikiran dangkal menyaratkan cintaNya untuk umatnya, bagi gue kasihnya itu tiada berbatas. Sekarang ini aku lagi gak pengen taruh kira sama wajah tuhan yang galak, yang ngehukum sana ngehukum sini. Karena bagi gue, tuhan itu ya baik. Kayak kata alkitab kali ya (perjanjian baru mungkin); tuhan itu kasih. Maka kasihilah sesama (ya gak sih?). tuhan itu satu-satunya sumber harapan gue (suka banget deh sama Alam Nasyrah). –ya iyalah, mau berharap sama manusia takut dikecewain-. Kalo berharap sama tuhan kan dia emang suka berahasia gitu ya.

Sederhana, karena tuhan baik maka gue juga pingin jadi orang baik aja. Nah, karena jadi orang baik itu sulit, gue gak mau memersulitnya dengan ketakutan-ketakutan yang bersumber dari ‘jangan-jangan’. ‘jangan-jangan’ ini dosa, ‘jangan-jangan’ tuhan gak suka. Tapi kata tuhan juga dia ternyata tuh udah milih gitu yah, siapa yang mau dimasukkin neraka, siapa yang boleh ikut jalan Dia. Aduh bingung deh. Gak fair dong. Padahal tuhan kan gembar gembor soal berbuat adil gitu deh. Kata tuhan; “gak adil gimana? Kan gue udah nurunin buku petunjuk, nah elu gak mau nurut buku petunjuk bukan salah gue dong”. Heheh. Gue jadi tambah bingung. Tuhan katanya Cuma menginginkan jalan mudah untuk makhlukNya, tuhan juga katanya akan mengombangngambingkan orang-orang fasik. Tapi masak sih tuhan gak ngitung p-r-o-s-e-s?

Ah, gak tau.

Mungkin ini juga yang bikin Buddha gak nyinggung2 konsep ketuhanan. Gue lagi terkagum-kagum sama konsep etika kebenarannya (bukan berarti di kitab masterpiece tuhan gak ada lo ya). Reasoning berbuat baiknya itu lo, so deep touch my heart. Sumpah deh. [T.T] bukan lagi tanah terjanji atau tanah terlaknat tapi seuatu yang reasonable, kaitan kita dengan semesta, dengan sesame dan bagiamana perbuatan baik itu ternyata berdampak bagi diri sendiri. That’s the point, I think. Mungkin ini kode rahasia tuhan. Mungkin awalnya tuhan membuatnya kodenya sangat mudah, patuhi aj, tapi beyond that dia pingin kita memahami bahwa itu demi kebaikan kita juga. Itu yang gak terekam dalam kitab masterpiecenya itu.

“memberi akan mendatangkan kebahagiaan pada setiap tingkat pelaksanaannya. kita akan mengalami kegembiraan dalam rangka membangun niat untuk menjadi dermawan atau baik hati, kita mengalmai kegembiraan dalam tindakan nyata memberi sesuatu dan kita mengalami kegembiraan dalam mengingat fakta bahwa kita telah diberi.[lama surya das]”

Dia emang suka banget berahasia. Bikin aku jadi penasaran.

Perjalanan dan menemukan kelindan dalam keindahan mungkin menyenangkan meski hatiku diayun keraguan. Apa yang pasti dalam hidup? Selain Tuhan?

Aku lagi ingat Kamu dan aku gak shalat. Males. Aku lagi berdoa buat dunia semoga jadi lebih baik tapi bkan di dalam solat, aku lagi sujud minta maaf atas perilaku burukku sama orang tua tapi juga gak di dalam solat, mau kamu itung pahala ya gak apa mau kamu itung dosa juga gak papa. Manut waelah sama yag nggawe urip. Karena aku berlaku sesenangku dalam hidup yang kamu berikan padaku, aku seharusnya siap kamu ganjar dengan ganjaran apapun, lha wong kamu yang ngasi hidup kok. Sukak-sukakmulah, Han.

Bei de wei aku percaya manusia punya sifat-sifat bawaan yang merupakan sifat dasar tuhan yang maha baik (entah baca darimana). Ini yang mebuatku optimis bahwa aku bias jadi baik (dan mungkin bias jadi TUhan, jugak…hekhek, becanda loh, Han…^^, gak mungkinlah aku saingan sama Kamu)

 

 

…I love you for a sentimental reason…

 

 

 

 

Tuhan, bagi nomer ponselmu dong…

Eli,eli,lama sabhaktani!

Bookmark and Share

brainstorm session

    

Hummm. Kemarin ngobrol sama pak kelik soal aku diriku dan kisah-kisah berkelindan. Diawali dengan sesi persepsi mengenai airmata, pembicaraan berlanjut tentang tanda tangan lalu garis hidup, apalagi kalau bukan percintaan.

Aku piker aku mengalami transformasi rasa setelah kematian hati pada episode bulan ke sekian. aku piker aku mengawali sebuah kehidupan yang baru, memunculkan sisi aku yang menyingkirkan keangkuhan, yang mencoba terbuka dengan kehidupan meski rentan dengan kepura-puraan. Aku pikir aku sudah cukup jujur, menjalani hubungan yang dewasa, bertanggung jawab pada setiap keputusan, mensyukuri setiap kesempatan, peristiwa dan tindakan.  Bukankah aku seharusnya bahagia dengan memertahankan kesetiaan? Tapi mengapa aku justru menginginkan kesendirian? Rupa-rupanya ada dia yang dikubur hidup-hidup itu perlahan coba bangkit lagi dari kematiannya. Semacam tanda peringatan, ‘bahaya’ ketika aku telah mulai percaya dan mungkin jatuh cinta. Tanda bahaya yang mengingatkan aku akan bahaya kegagalan, bahaya ketimpangan, bahaya kehilangan, lalu sampailah aku pada perasaan tidak aman untuk kesekian kalinya. Ia membangun kembali tembok ego yang dulu sempat runtuh atas nama kecewa, perasaan ketakberhargaan, dendam, dan bentuk mengasihani diri sendiri, mengubahnya jadi bentuk mekanisme aman –menjadi dingin-. Tapi tentu diri yang sekarang tidak mengizinkannya. Sesuatu yang ditekan kemudian merembet pelan-pelan menjadi kegelisahan.

Perbincangan kala itu memunculkan lagi dari kuburan aku yang selalu dan akan selalu siap mengejar mimpi-mimpi sendiri. Dalam kebebasan yang aku buat sendiri dalam sebuah hubungan yang hanya ada aku, hatiku, dan ke’suka-suka’anku tanpa harus bekompromi engan apapun juga. Mengejar apa yang aku inginkan dan aku yakin aku mampu dapatkan. Aku piker aku yang seperti ini sudah lama tak ada lagi. Setidaknya sejak kemunculannya terakhir sebagai penyelamat dari lubang perpisahan kemarin. Aku semain menyadari bahwa ternyata aku memang hidup dalam duniaku yang serba tidak aman. Perasaan tidak aman yang tinggi itu membuatku kesulitan mencintai. Bagaimana bila ia ternyata tidak menyintaiku sebesar aku menyintainya? Bagaimana bila aku nanti harus kehilangan? Seolah aku tidak akan dicintai sebagaimana adanya. Akan selalu ada persayaratan. Atau kalau tidak cicilan berbunga yang harus dibayar di belakang. Dan bagaimana dengan komitmen jangka jauh itu. Pembicaraan kemarin seperti menyadarkan dari amnesia, bahwa seburuk apapun keadaannya nanti, bila telah sampai aku pada ketidakmungkinan, aku tidak akan terpuruk. Karena pastinya aku selalu dapat bangkit berdiri lalu berjalan meski sendiri. There is still another dream to catch. Life to lives with. And if there is no one loves me more than I do, so why should I regret. I have mine (and God also) with unconditional love for myself. That was all that I confuse about my life, future, marriage and so on. Is there somebody whose truly, madly, deeply loves me even I am not (yet) love him back properly? Bukankah cinta harusnya setia,tulus, sabar  menenti? Dan bila ia tidak diperjuangkan  bukankah memang berarti bukan untukku. So  could I surrender? Is it safe enough for me?

About my feeling? I am happy enough with him. I thought he loves me, so I love him also. And that enough for me. Enough for him too. It is not such a fairy tale. So maybe we will not live happily ever after but we will be happy. As whatever it is. Because life is such a dark comedy, or maybe tragedy. All of that I believe we will be happy. Supposed to be like that.

Tapi jadi ingat lagunya Iwan fals ‘KASACIMA’;

“….senyumlah engkau kekasih, problema jadi tak perih

Kasihku kasih terkasih, sayangku sayang tersayang, manisku manis termanis

hidup ini indah, berdua semua mudah

yakinlah melangkah, jangan lagi gelisah…”

confuse still there, but that’s okay. Just like faith we must fight for that. Isnt it?

 

Bookmark and Share

ooooh jadi kalau page itu kaya kategori sendiri gitu ya.

heh. kok makin keren aja si blog friendster jadi berat hati mau meninggalkan ni.

secara udah kepingin aja resmi meninggalkan fs untuk beralih kepada fb.

meski tampilan dan enaknya masih enakan fs sih. tapi fb asik. kuisnya banyak. ada movienya juga. menghibur deh. tapi loadingnya suka lama dan backgroundnya ga bisa diganti.

ho hoh. aku juga resmi punya deviant. punya multiply juga. jadi punya banyak tempat bermain yang lain. tapi mungkin aku akan memilih yang paling sederhana dan jarang dipakai; deviant. because i am deviant mungkin?

you can see me at;

cahayapertama.deviantart.com

iffha.multiply.com

Bookmark and Share

bergabung lagi

ya, bergabung lagi, jadi kuli, dengan demikian hidupku semakin semarak dihidupi meski aku tahu dia sudah penuh sesak

berjuang sajah alifa, toh demi manusia… hitungannya adalah penyadaran dan penyelamatan dari marjinalisasi meski tidak ada organizational commitment disana, maaf saja, kita tidak sepemahaman!

Bookmark and Share

Older Posts »